Jogja

Sleman Punya 8 Warisan Budaya Tak Benda, dari Kuliner hingga Mitos Gunung Merapi

Yudi Permana | 30 Juni 2025, 05:48 WIB
Sleman Punya 8 Warisan Budaya Tak Benda, dari Kuliner hingga Mitos Gunung Merapi



Akurat.co, Jogja-Kabupaten Sleman memiliki delapan Warisan Budaya Takbenda (WBtb). Warisan terdiri dari kuliner, kesenian, hingga mitos.

Sebanyak delapan karya budaya asli Sleman resmi diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tahun 2025.

Dengan perolehan ini, Sleman menjadi kabupaten dengan jumlah WBTb terbanyak se-DIY tahun ini.

Baca Juga: Tahu Bacem Kidul Beteng: Kuliner Favorit Peziarah Makam Raja-Raja

Mengungguli Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat (5 WBTb), Kota Yogyakarta (6 WBTb), Kabupaten Bantul (5 WBTb), Kabupaten Kulonprogo (4 WBTb), dan Kabupaten Gunungkidul (4 WBTb).

Lalu apa saja WBtb yang dimiliki Sleman?

1. Jathilan lancur

Kesenian ini berkembang di daerah Sleman. Salah satu cirinya adalah pada kostum sederhana. Seperti jarik, baju putih, celana tari, sampai aksesori.

Aksesori biasanya berupa sampur, stagen, kamus, dan kuluk berhias bulu ayam atau lancur.


2. Mitos Gunung Merapi

Berbagai kepercayaan atau mitos seputar Gunung Merapi dipercaya warga setempat dan sudah menjadi tradisi turun temurun.

Di antara mitos yang berkembang di antaranya, dilarang membawa daging sapi, tidak bicara kasar, dilarang merusak alam, dan mitos tentang Keraton Merapi.

3. Tambak Kali

Ini adalah upacara adat yang digelar di Gendingan, Argomulyo, Cangkringan, Sleman. Tujuannya untuk memohon keselamatan, kemakmuran, dan penghormatan kepada leluhur.

Rangkaian acara meliputi kirab budaya, pengajian akbar, yang biasanya dipusatkan di Makam Adipati Jayadiningrat.

Baca Juga: Seru-Seruan Bareng Toddler di The Nice Playground Yogyakarta


4. Jadah Tempe

Ini adalah kuliner dari ketan dan tempe. Kuliner ini sudah sangat populer di wilayah Sleman, khususnya Kaliurang.

Makanan ini dihidangkan di berbagai acara, mulai pernikahan, selamatan, dan upacara adat.

Jadah tempe adalah simbol kebersamaan dan gotong royong dalam masyarakat Jawa karena dalam pembuatannya melibatkan keluarga atau komunitas.


5. Apem Wonolelo

Ini bukan sekadar kue, melainkan memiliki nilai historis yang kental. Warga Dusun Wonolelo, Wedomartani, Ngemplak, Sleman, mempercayai ini sebagai budaya luhur yang harus dilestarikan.

Konon kue ini digunakan Ki Ageng Wonolelo sebagai media dakwah Islam. Tradisi pembagian apem pun lestari sampai haru ini.

Baca Juga: 5 Tempat Paling Romantis di Jogja, Muda-mudi Wajib Ukir Kenangan Indah di Sini

6. Cethil

Makanan tradisional dari tepung kanji, diolah dengan warna-warni menarik, dengan taburan parutan kelapa.

Cethil dianggap sebagai salah satu kuliner yang memiliki nilai budaya, sosial, dan spiritual oleh warga Sleman.

7. Tempe Pondoh

Kalau ada Salak Pondoh, Sleman juga memiliki Tempe Pondoh. Makanan ini sebenarnya variasi dari jadah. Tempe ini lahir sebagai alternatif mahalnya beras ketan sebagai bahan dasar jadah.

Dipilihlah beras Jawa yang lebih murah untuk membuat Tempe Pondoh ini.

8. Ayam Kalasan

Sesuai namanya Ayam Kalasan berasal dari Pedukuhan Bendan, Kelurahan Tirtomartani, Klasan, Sleman. Awalnya hidangan ini adalah ayam ungkep biasa yang dibagikan kepada pejuang kemerdekaan.

Seiring zaman, penjualannya menambahkan inovasi kremes dan jadilah Ayam Goreng Kalasan sebagai kuliner yang kita kenal sampai hari ini.

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.