Kisah di Balik Pohon Jatimega yang Diberikan UGM kepada Megawati Soekarnoputri

Akurat.co,Jogja-Presiden Kelima RI sekaligus Ketua Dewan Pengarah BRIN, Prof. Dr. (H.C.) Hj. Megawati Soekarnoputri melakukan kunjungan ke Hutan Wanagama di Desa Banaran, Kecamatan Playen, Kabupaten Gunungkidul, Kamis (2/10), kemarin.
Megawati disambut langsung oleh Rektor UGM, Prof. Ova Emilia,didampingi jajaran pimpinan UGM, bupati Gunungkidul, wakil bupati Sleman dan para pimpinan daerah lainnya.
Dalam kesempatan tersebut, UGM memberikan pohon Jatimega kepada Megawati.
Dekan Fakultas Kehutanan UGM, Ir. Sigit Sunarta menjelaskan, Jatimega merupakan hasil pengembangan dahulu dibiayai oleh Megawati.
Baca Juga: Megawati Ingatkan Pentingnya Semangat Nasionalisme dalam Riset dan Inovasi
Sehingga kemudian diberi nama Jatimega, dan hingga sekarang masih tetap terus diproduksi dan ditanam di beberapa tempat di kawasan hutan di Jawa.
Di Kawasan Hutan Wanagama, pengembangan pohon Jatimega dilakukan di kavling 16 seluas 5 hektar.
Pohon ini juga ditanam di Kawasan Hutan di Ngawi dan hutan di Blora.
“Jati ini memang jenis unggul, dan setelah dikembangkan kelebihannya dalam waktu umur misalkan 20 tahun. Untuk jati biasa umurnya kurang lebih 60 tahun. Jadi jenis ini sangat lebih cepat,” paparnya.
Kunjungan Megawati di kawasan hutan Wanagama untuk mengenang kembali kunjungan yang pernah dilakukan 20 tahun yang lalu.
Pada kunjungan saat itu, Megawati berkesempatan memberi bantuan sumur bor yang berfungsi untuk pemuliaan hutan jati.
“Sebenarnya ada materi genetik yang sudah kita miliki, kemudian kita kembangkan dan diberi nama Jatimega. Sehingga Jatimega ini sudah ditanam di sini, umurnya 21 tahun, dan sekarang ada di petak 16.
Baca Juga: Pemkab Kulon Progo Luncurkan Bus Gratis untuk Siswa Disabilitas
Ibu Megawati kesini kembali ya paling tidak cek dan juga nostalgia waktu 20 tahun yang lalu,” ujarnya.
Sigit menambahkan Kawasan Hutan Wanagama sesuai mandat memang sebagai kawasan hutan dengan tujuan khusus.
Misalkan sebelumnya ada pengembangan seperti untuk ekowisata. Selain itu hutan ini utamanya untuk edukasi.
“Karenanya disini kita punya beberapa gedung, ruangan yang bisa dipakai untuk berbagai macam pelatihan dan lain sebagainya, dan itu sesuai dengan mandat sebagai kawasan hutan dengan tujuan khusus,” imbuhnya.
Baca Juga: Lorong Sayur Gembira Rejowinangun, dari Gang Sempit jadi Lahan Sayur Menghasilkan
Dalam kunjungan kali ini, kata Sigit, Megawati berpesan bahwa sebagai kawasan hutan dengan tujuan khusus perlu untuk dilestarikan.
Dipesankan tidak boleh ada penebangan, dan UGM memang tidak menebang karena secara aturan hanya bisa menanam.
“Memang begitu, tidak boleh menebang pohonnya, tetapi kita bisa memanfaatkan hasil-hasil hutan di luar kayu,” terang Sigit.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Dispar Bantul Gelar Pameran Layang-Layang 'Akasa Cangkring' di Pantai Cangkring
- 2Lewat Program Masdaku, Diskop UKM Sleman Dorong 111 Ribu UMKM Go Digital
- 3Satu Tahun Wajah Baru Pasar Godean: Ada Pembagian 4.000 Porsi Makanan Gratis!
- 4KPU dan Bawaslu Sleman Sinkronisasi Data Pemilih Triwulan III 2026
- 5UAJY Gelar International Cross Cultural Day 2026 di Yogyakarta, Pertemukan Budaya Berbagai Negara
- 6Pilihan Warna Baru New Honda Stylo 160: Tampil Lebih Retro dan Premium!
- 7Liga Seri A Askab PSSI Sleman 2026 Resmi Bergulir, Diikuti 8 Tim
- 8Kontingen Bantul Raih Juara Umum PORPRISA DIY 2026
- 9Kalah dalam 3 Laga Awal, Fans PSS Berharap Finis 10 Besar
- 10UGM Kembangkan Gula Semut Kulon Progo jadi Produk Ekspor








