Jogja

Pernyataan Lengkap Sri Sultan HB X soal Polemik Stadion Maguwoharjo sebagai Kandang PSIM, Sebut Sleman Bagian DIY

Yudi Permana | 25 Juli 2025, 09:05 WIB
Pernyataan Lengkap Sri Sultan HB X soal Polemik Stadion Maguwoharjo sebagai Kandang PSIM, Sebut Sleman Bagian DIY

Akurat.co, Jogja-Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menyikapi polemik berkepanjangan pemakaian Stadion Maguwoharjo sebagai kandang PSIM untuk Super League mendatang.

Sri Sultan Hamengku Buwono X menyayangkan belum diizinkannya PSIM menggunakan Stadion Maguwoharjo Sleman sebagai kandang resmi tim di kompetisi kasta tertinggi.

Sultan menilai Stadion Maguwoharjo dibangun dengan dana APBN, dan sudah seharusnya dimanfaatkan untuk kepentingan publik, bukan untuk kepentingan satu wilayah atau kelompok saja.

Sri Sultan menilai bahwa sebagai bagian dari DIY, Sleman tidak sepatutnya membatasi pemanfaatan stadion hanya untuk kepentingan wilayahnya.

Baca Juga: Gubernur DIY Tegaskan, Stadion Maguwoharjo Bisa Dipakai Semua Klub, Termasuk PSIM

Terlebih, PSIM sebagai klub asal DIY juga menyatakan kesiapannya untuk menyewa sesuai ketentuan.

“Ya kan terserah pemerintah, masa tiap kabeh bangun stadion hanya untuk rakyatnya sendiri. Sleman kan bagian dari DIY,” kata Sri Sultan di Kompleks Kepatihan, Yogyakarta, sebagaimana dikutip dari jogjaprov.go.id.

Sri Sultan menyayangkan adanya penolakan tersebut, mengingat, yang akan memanfaatkan Stadion Maguwoharjo adalah PSIM yang notabene dari DIY.

Selama ini, Stadion Maguwoharjo diketahui, juga disewakan untuk pihak di luar DIY.

“Masak disewa sama yang lain boleh dari luar Jogja, malah sama PSIM nggak boleh. Kan nggak ada ruginya. Wong ra gratis,” ujar Sri Sultan.

Gubernur DIY ini juga mendorong adanya dialog antara Pemerintah Kabupaten Sleman dan pihak-pihak terkait untuk menyelesaikan polemik ini secara terbuka.

Baca Juga: Keraton Yogyakarta Sewakan Lahan untuk Jalan Tol Rp1.000an per Meter per Bulan

“Makanya saya minta rembukan sama pak bupati. Itu kan untuk kepentingan publik,” ujarnya.

Menurut Sri Sultan, pembatasan penggunaan fasilitas berdasarkan wilayah administratif mencerminkan pola pikir yang sempit dan tidak sesuai dengan semangat keistimewaan DIY.

“Mosok dari Jogja sendiri nggak boleh. Kan nggak logis, terlalu cupet pola pikirnya,” tutup Sultan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.