Jogja

Inflasi DIY Terkendali, Masuk Kategori Rendah di Pulau Jawa

Yudi Permana | 12 November 2025, 08:05 WIB
Inflasi DIY Terkendali, Masuk Kategori Rendah di Pulau Jawa

Akurat.co,Jogja-Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memiliki nilai inflasi yang masih terkendali.

Bahkan, DIY menjadi salah satu provinsi dengan inflasi yang relatif rendah di Jawa dan tetap berada dalam koridor target nasional.

Hal tersebut disampaikan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) DIY, Sri Darmadi Sudibyo dalam Rapat Koordinasi Daerah Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) 2025, Selasa (11/11/2025). Rapat juga dihadiri Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Sri Darmadi Sudibyo menjelaskan bahwa inflasi DIY masih terkendali meski sedikit meningkat dibanding bulan sebelumnya.

Baca Juga: Harga Pangan di Yogyakarta Terkendali, Inflasi Terjaga

Berdasarkan data BPS, IHK DIY pada Oktober 2025 tercatat mengalami inflasi sebesar 0,42 persen (mtm), naik dari 0,15 persen (mtm) pada September.

Secara tahunan, inflasi DIY mencapai 2,90 persen (yoy), lebih tinggi dari periode yang sama tahun lalu (1,57 persen yoy) dan sedikit di atas inflasi nasional.

Kenaikan harga terutama dipicu oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau, penyediaan makanan dan minuman/restoran, serta pendidikan.

Komoditas utama penyumbang inflasi antara lain emas perhiasan, beras, dan kelapa, sementara bawang putih, cabai rawit, dan kangkung justru mengalami penurunan harga.

“DIY masih menjadi salah satu provinsi dengan inflasi yang relatif rendah di Jawa dan tetap berada dalam koridor target nasional,” ujar Sri Darmadi.

Secara umum, ekonomi DIY tumbuh 5,40 persen (yoy) pada triwulan III 2025, tertinggi di Pulau Jawa meski sedikit melambat dibanding triwulan sebelumnya.

Pertumbuhan ini didukung oleh sektor konstruksi, industri pengolahan, jasa pendidikan, serta akomodasi dan makan-minum.

BI menilai sinergi antar sektor tersebut menjadi penopang stabilitas harga di tengah tekanan musiman akhir tahun.

BI DIY juga mendorong keterlibatan lembaga sosial melalui pemanfaatan dana sosial (social fund) komunitas untuk pengendalian inflasi.

Baca Juga: Mendagri Ingatkan Pemda Jaga Inflasi, Bagaimana dengan Yogyakarta?

Skema ini terbukti membantu menstabilkan harga saat panen raya dan menjaga nilai tukar petani, sekaligus menyeimbangkan pasokan antara wilayah surplus dan defisit pangan di DIY.

Dalam jangka panjang, BI merekomendasikan penguatan inovasi pertanian digital dan pengaturan pola tanam berbasis data iklim.

Pemanfaatan Internet of Things (IoT) di sektor pangan dinilai dapat meningkatkan efisiensi produksi, sementara sistem resi gudang dan Geoportal Ekonomi DIY membantu memperkuat rantai pasok serta kerja sama antar daerah.

“Upaya menjaga stabilitas harga harus disertai komunikasi publik yang efektif,” tegas Sri Darmadi.

Sri Sultan mengingatkan, menjelang Natal dan Tahun Baru, tekanan inflasi biasanya meningkat karena permintaan komoditas naik sementara pasokan menurun pascapanen.

Baca Juga: Pemkot Jogja akan Tambah Warung Pengendali Inflasi di Pasar-pasar Tradisional

"Jika tidak diantisipasi, gejolak harga bisa menekan daya beli masyarakat,” tegas Sri Sultan.

Sultan juga menyebut, pertanian menjadi sektor kunci pengendalian inflasi. Ia menekankan pentingnya peningkatan efisiensi irigasi, penyimpanan, dan transportasi untuk menjaga pasokan tetap stabil.

Selain itu, pemerintah daerah juga menyiapkan delapan langkah strategis menjelang akhir tahun, di antaranya memperkuat cadangan pangan daerah, peran BUMD sebagai penggerak ekonomi pangan, dan perluasan akses kredit pertanian.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.