Dosen UMY Sebut Job Hugging Bak Pedang Bermata Dua, Kenapa?

Akurat.co,Jogja-Saat ini tengah marak fenomena job hugging di dunia kerja.
Istilah ini merujuk pada situasi ketika karyawan sangat mencintai atau tak mau melepas pekerjaan, meski ada peluang untuk berkembang atau berpindah.
Dosen Prodi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr. Rini Juni Astuti, SE., M.Si mengatakan, fenomena ini ibarat pedang bermata dua.
Menurutnya, job hugging bisa meningkatkan loyalitas, tetapi juga berisiko menimbulkan stagnasi.
Baca Juga: Platform UMKM Si Bakul Jogja, Lahir saat Pandemi, Kini Layani 5.000 Transaksi UMKM per Hari
Rini menyebut, faktor utama yang mendorong karyawan cenderung melakukan job hugging biasanya terkait rasa aman dan persepsi risiko.
Banyak pekerja khawatir kehilangan stabilitas finansial maupun psikologis, bahkan ada yang kurang percaya diri menghadapi tantangan baru.
Dikutip dari laman resmi UMY, kondisi ini diperkuat oleh budaya kerja di Indonesia yang kolektif, hierarkis, dan paternalistik.
Loyalitas kepada atasan maupun organisasi masih sangat dihargai, sehingga meski karier stagnan, karyawan sering memilih tetap bertahan.
“Budaya Indonesia cenderung menjaga harmoni dan menghindari konflik, sehingga banyak pekerja lebih memilih stabilitas," kartanya.
Loyalitas dianggap sebagai bentuk bakti dan dedikasi. Selain itu, banyak yang lebih menekankan pada job security berupa gaji tetap, tunjangan, dan pensiun, ketimbang tantangan karier.
"Inilah sebabnya fenomena job hugging sangat kuat, terutama di sektor pemerintahan dan BUMN,” tambahnya.
Selain faktor budaya, sistem manajemen SDM perusahaan juga berperan besar. Perusahaan dengan jalur karier tidak jelas, reward statis, budaya paternalistik, serta minim program up-skilling cenderung memperkuat job hugging.
Baca Juga: Ekonom UGM Ingatkan Risiko Menkeu Purbaya Tarik Dana Rp200 Triliun dari BI, Depresiasi Rupiah hingga Potensi Kaburnya Investor
Sebaliknya, praktik manajemen modern seperti talent management, rotasi kerja, sistem reward berbasis kinerja, serta budaya inovasi dapat membantu menguranginya.
Lebih lanjut, Rini menandaskan, perusahaan tidak perlu menghapus job hugging sepenuhnya karena loyalitas tetap bernilai.
Namun, fenomena ini harus dikelola dengan baik. Strategi yang bisa dilakukan antara lain membangun jalur karier yang jelas, memperkuat pelatihan, menerapkan rotasi, hingga menghadirkan coaching dan mentoring.
Bagi generasi muda yang baru memasuki dunia kerja, Rini menekankan pentingnya membangun kompetensi dan keberanian menghadapi perubahan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Hyundai STARGAZER Cartenz Resmi Meluncur, Ini Fitur Unggulannya untuk Liburan di Jogja
- 2DPRD DIY Minta Menkeu Batalkan Pemangkasan Dana Transfer Daerah
- 3392 Maba UP45 dapat Pembekalan Bela Negara
- 4DPRD DIY Berharap Menteri Keuangan Baru Pertimbangkan Pemangkasan Anggaran Daerah
- 5Sempat Diperkenalkan PSS, Kenapa Hanif Sjahbandi ke Arema?
- 6Pemkot Jogja Tertibkan 4 Reklame Besar Ilegal
- 7Jelang Derby, Kelompok Suporter PSIM dan PSS Sepakat Menjaga Keamanan
- 82 Atlet Tembak Asal Gunungkidul Perkuat Kontingen Indonesia di Asian Games ke-20
- 9Sempat Diperkenalkan PSS, Kenapa Hanif Sjahbandi ke Arema?
- 105 Fakta Penting Dugaan Pungli di Alkid Jogja yang Diungkap Pemilik Bolosego, Keraton hingga Polisi Buka Suara





