Jogja

Apa Itu The Anxious Generation yang Bikin Generasi Indonesia Rentan? Ini Kata Pakar UMY

Yudi Permana | 18 Oktober 2025, 17:05 WIB
Apa Itu The Anxious Generation yang Bikin Generasi Indonesia Rentan? Ini Kata Pakar UMY

Akurat.co, Jogja-Dewasa ini muncul lagi istilah The Anxious Generation. Masalah yang dihadapi anak era sekarang karena derasnya arus digitalisasi.

Generasi saat ini tumbuh dalam lingkungan sosial yang berpindah ke layar gawai, sehingga proses pencarian jati diri kerap terhambat.

Fenomena ini dikenal sebagai “generasi cemas” atau The Anxious Generation, yakni generasi yang tumbuh dengan tingkat kecemasan dan ketidakstabilan mental yang tinggi.

Baca Juga: Pakar UMY: Penggunaan Bahasa Indonesia di Sidang Umum UNESCO Tonggak Baru Diplomasi RI

Penjelasan pakar UMY

Menurut Prof. Faris Al-Fadhat, M.A., Ph.D., Wakil Rektor Bidang Pengembangan Universitas dan Al-Islam Kemuhammadiyahan (AIK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), fenomena tersebut berakar pada perubahan mendasar dalam pola tumbuh kembang anak.

“Anak-anak yang tumbuh antara tahun 2010–2015 kini menjadi mahasiswa UMY. Mereka mengalami pergeseran dari play-based childhood menjadi fun-based childhood.

Tidak lagi bermain bersama teman di lapangan atau lingkungan rumah, melainkan di bermain sendiri melalui layar ponsel.

Akibatnya, kemampuan sosial, empati, dan pengendalian diri berkembang dalam konteks yang sangat berbeda,” jelasnya.

Kondisi ini membuat generasi muda lebih mudah merasa cemas dan kesepian, meskipun secara digital mereka tampak terhubung dengan banyak orang.

Paparan media sosial yang berlebihan turut memperburuk keadaan karena membentuk standar kebahagiaan dan kesuksesan yang semu.

Baca Juga: Pakar UMY Dukung Penerapan Zero ODOL 2027, Ungkap Fakta Mencengangkan Transportasi Indonesia

“Terlalu banyak waktu di depan layar mengubah cara berpikir, cara berinteraksi, bahkan cara seseorang menilai dirinya sendiri. Generasi digital sering tampak percaya diri di dunia maya, tetapi rapuh ketika berhadapan dengan kenyataan sosial di dunia nyata,” tambah Faris.

Selain kecemasan, tantangan lain yang dihadapi generasi muda adalah krisis kepemimpinan dan lemahnya kemampuan sosial.

Faris menyoroti hasil penelitian yang menunjukkan bahwa sebagian besar lulusan muda gagal bertahan di dunia kerja bukan karena kurangnya kemampuan teknis, tetapi karena lemahnya soft skills.

“Dari sepuluh lulusan baru yang memasuki dunia kerja, enam di antaranya gagal bertahan karena kurang memiliki keterampilan kepemimpinan, komunikasi, dan pengalaman sosial," katanya.

Baca Juga: Pakar UMY Sebut Kebijakan Pencampuran Etanol 10 Persen Langkah Tepat Menuju Energi Bersih Nasional

Faris menyebut, golongan ini tidak terbiasa bekerja dalam tim, berorganisasi, atau menghadapi tekanan sosial.

"Ini menjadi alarm bagi dunia pendidikan agar tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik,” terangnya.

Menurut Faris, perguruan tinggi memiliki peran penting sebagai ruang pembentukan karakter dan kesiapan sosial mahasiswa. Kampus harus menjadi tempat tumbuhnya relasi yang sehat, empati, serta kepemimpinan yang berakar pada nilai moral dan akhlak karimah.

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.