Pakar UMY: Penggunaan Bahasa Indonesia di Sidang Umum UNESCO Tonggak Baru Diplomasi RI

Akurat.co,Jogja-Bahasa Indonesia menjadi salah satu bahasa resmi di Sidang Umum UNESCO tahun ini.
Dosen dan pakar bahasa Indonesia Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Tri Wahyono, M.Pd., menilai keputusan tersebut sebagai tonggak baru diplomasi budaya bangsa.
Hal tersebut menunjukkan pengakuan bahasa Indonesia sebagai bahasa global sejajar dengan bahasa-bahasa besar dunia.
“Ini bukan puncak, tapi tahapan penting menuju pengakuan yang lebih luas, termasuk oleh PBB. Momentum ini membuktikan bahwa bahasa Indonesia memiliki kekuatan budaya dan identitas yang diakui dunia,” ujar Tri.
Baca Juga: Warga Sleman Ingin Bikin Paspor? Sekarang Bisa di Mal Pelayanan Publik, Loh…
Lebih jauh, sebagaimana dilansir dari laman resmi UMY, Tri menjelaskan bahwa proses internasionalisasi bahasa Indonesia telah dimulai jauh sebelum keputusan UNESCO.
Program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) menjadi salah satu inisiatif yang paling berperan, dengan kegiatan pengajaran yang kini tersebar di puluhan negara dan terus berkembang dari tahun ke tahun.
Menurutnya, keberhasilan bahasa Indonesia menembus forum internasional tidak terlepas dari karakter bahasanya yang sederhana, terbuka, dan mudah dipelajari.
Secara gramatikal, bahasa Indonesia relatif tidak rumit karena tidak mengenal perubahan bentuk kata akibat waktu (tense) maupun perbedaan gender seperti halnya bahasa Arab atau Prancis.
Struktur kalimatnya pun universal: Subjek, predikat, dan objek, serupa dengan bahasa Inggris.
Tri mencatat bahwa hingga tahun 2025, jumlah penutur bahasa Indonesia mencapai sekitar 300 juta orang, termasuk penutur asing di berbagai belahan dunia.
Saat ini, sebanyak 57 negara telah menggunakan atau mengajarkan bahasa Indonesia, dan di 54 universitas luar negeri, bahasa Indonesia telah menjadi program studi atau mata kuliah yang diminati.
Baca Juga: Angin Ambrukkan Joglo di Sleman, 3 Korban Dirawat di RS
“Vietnam bahkan sudah menetapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa asing kedua sejak 2007, sementara di Australia, bahasa Indonesia diajarkan sejak jenjang sekolah dasar,” jelasnya.
Meski demikian, Tri menegaskan bahwa pengakuan UNESCO baru merupakan salah satu tahap menuju pengakuan yang lebih tinggi, yakni menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi PBB.
Untuk mencapai target tersebut, ia menilai pentingnya memperkuat diplomasi budaya dan bahasa sebagai instrumen soft power bangsa.
“Bahasa itu produk budaya. Untuk memperkuat posisi bahasa Indonesia, kita harus memperkuat fondasi budayanya terlebih dahulu,” tegasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Oase Malioboro Siap Sambut Wisatawan di Libur Akhir Tahun
- 2DIY Siapkan 203 Event Sepanjang 2027
- 3Daftar Lengkap Pemain PSIM untuk League Cup, 3 Asing dan 6 EPA
- 4Dosen UMY Ungkap Penyebab Boikot RANS Carnival Yogyakarta
- 5Bongkahan Es Sebesar Kelapa Timpa Rumah Warga di Bantul, Ini Faktanya...
- 6Mahasiswa UAJY Ciptakan Masker Biomaterial Pencegah Debu Silika Industri
- 7Fenomena Warga Miskin RI, Beli Rokok Lebih Utama ketimbang Makanan Bergizi
- 8Hujan Es Gegerkan Bantul, BMKG Jogja Ungkap Penyebabnya
- 9Jadwal I League Cup Hari Ini: PSS Jamu PSGC Ciamis
- 10Pemkab Bantul Salurkan Bantuan 2.000 Ekor Ayam Petelur ke Warga






