Mencicipi Apem Beras di Pasar Ngasem, Kuliner Kaya Rasa yang Tetap Lestari

Akurat.co,Jogja-Bicara kuliner tradisional di Jogjakarta memang tak akan pernah selesai. Ada satu. Muncul satu lagi.
Salah satunya adalah apem beras. Jajanan dari tepung, kelapa, dan gula, ini merupakan kuliner tradisional yang melegenda sampai saat ini.
Dan, Apem Beras Bu Wanti di Pasar Ngasem menjadi salah satu pelaku usaha yang ikut melestarikannya.
Apem Beras Bu Wanti bahkan sudah dikenal wisatawan luar daerah. Mereka sampai rela ikutan walking tour hanya untuk mencicipi kekhasan rasanya.
Baca Juga: Cicipi Kuliner Apem Legendaris Mbok Marto, Cita Rasa Manis dan Lembut Sejak Tahun 1964
Salah satu wisawatan, Anggita Deska, membagikan pengalaman mencicipi Apem Beras Bu Wanti ketika mengikuti walking tour belum lama ini.
"Ada apem beras di pasar ngasem, karena datang di long weekend jadi antri banget, tapi bisa dapat karena ikutan walking tour, harga hanya 4k.
Dia wangi banget, ada tepung, kelapa, gula jadi harum gurih dengan sedikit manis. Worth to buy, worth to try," ungkapnya dalam ulasan Google Review.
Cita rasa yang pas
Soal cita rasa, Bowo Ardianto, yang juga pernah membelinya mengungkap, cita rasa apemnya gurih manis. Manis yang pas, jadi gak bikin eneg.
Menurut Bowo, yang menarik lagi dari apem ini adalah dibuat dadakan.
"Jadi kalau pas pengunjung banyak kudu sabar dulu. Antri. Begitu jadi bisa langsung dimakan. Masih hangat ketika disantap. Lembut dan bikin nagih. Yummyy," ujarnya.
Apem Beras Bu Wanti dirintis sejak era 1990-an.
Kini usaha ini dikelola oleh generasi kedua, pasangan suami istri Ade Purwantiningsih dan Doni, yang tetap mempertahankan cita rasa serta cara pembuatan tradisional.
Jadi bagian tradisi adat dan keagamaan
Selain sebagai jajanan biasa, Di DIY, kuliner tradisional ini pun eksis menjadi bagian dalam tradisi keagamaan dan adat.
Seperti, hadir dalam tradisi Ngapem yang dilakukan setahun sekali oleh Keraton Yogyakarta sebagai bagian dari rangkaian peringatan Tingalan Jumenengan Dalem (peringatan naik takhta Sultan).
Pun, dalam tradisi Ruwahan Apem yang biasanya digelar menjelang bulan Ramadan.
Kata apem itu sendiri diyakini berasal dari bahasa Arab, yaitu “afuum” atau “affuwun” yang memiliki arti ampunan.
Dalam tradisi Jawa, apem kemudian memiliki filosofi, yaitu ‘memohon ampunan kepada sang pencipta'.
Baca Juga: Apem Beras Bu Siti, Jajanan Legendaris Pasar Ngasem Sejak Tahun 1957
Oleh karena itu, apem hingga saat ini masih sangat lekat digunakan sebagai perwujudan simbol dalam ritual upacara tradisional Jawa, seperti syukuran, upacara selama kehamilan, sunatan, pernikahan hingga upacara kematian.
Dimasak menggunakan tungku berbahan bakar arang, apem beras memiliki aroma dan tekstur khas tersendiri, yang akan abadi di lidah masyarakat Indonesia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Oase Malioboro Siap Sambut Wisatawan di Libur Akhir Tahun
- 2DIY Siapkan 203 Event Sepanjang 2027
- 3Daftar Lengkap Pemain PSIM untuk League Cup, 3 Asing dan 6 EPA
- 4Bongkahan Es Sebesar Kelapa Timpa Rumah Warga di Bantul, Ini Faktanya...
- 5Dosen UMY Ungkap Penyebab Boikot RANS Carnival Yogyakarta
- 6Mahasiswa UAJY Ciptakan Masker Biomaterial Pencegah Debu Silika Industri
- 7Hujan Es Gegerkan Bantul, BMKG Jogja Ungkap Penyebabnya
- 8Fenomena Warga Miskin RI, Beli Rokok Lebih Utama ketimbang Makanan Bergizi
- 9Jadwal I League Cup Hari Ini: PSS Jamu PSGC Ciamis
- 10Pemkab Bantul Salurkan Bantuan 2.000 Ekor Ayam Petelur ke Warga





