Jogja

Mendagri Minta Pemerintah Daerah Perkuat Mitigasi Bencana

M. Mubin Wibawa | 19 November 2025, 18:47 WIB
Mendagri Minta Pemerintah Daerah Perkuat Mitigasi Bencana

Akurat.co,Jogja-Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian meminta pemerintah daerah (pemda) untuk memperkuat mitigasi bencana.

Menurut Tito, Presiden Prabowo Subianto telah menginstruksikan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) untuk berkoordinasi dengan pemda dalam memetakan daerah rawan bencana.

Hal ini penting mengingat intensitas curah hujan yang tinggi diprediksi masih akan berlangsung.

“Curah hujan akhir-akhir ini memang tinggi dan akan berlanjut. Ini berisiko, khususnya di Jawa yang padat penduduk. Kalau longsor terjadi di lahan kosong tidak masalah.

Baca Juga: Rata-rata Keterwakilan Perempuan di Parlemen Pusat Hingga Daerah Masih Di Bawah 30%

Tapi kalau di permukiman, itu bisa menimbulkan korban,” jelas Tito saat mengunjungi lokasi longsor di Desa Cibeunying, Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, Rabu (19/11/2025).

Dalam kunjungan itu, Tito menemui para korban terdampak dan memberikan penguatan kepada keluarga yang masih menanti hasil pencarian korban hingga hari terakhir operasi.

Tito meminta seluruh tim evakuasi dan pencarian korban, yang terdiri dari Basarnas, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), TNI/Polri, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), dan para sukarelawan, untuk tetap solid dalam melakukan pencarian.

Ia menekankan pentingnya kerja cepat dan kompak guna mengurangi kegelisahan keluarga korban yang masih mencari anggota keluarganya.

“Saya datang langsung untuk melihat kondisi di lapangan dan memastikan penanganan berjalan maksimal.

Ini juga menjadi peringatan bagi pemda (pemerintah daerah) lain agar segera memperkuat mitigasi bencana,” ujar Tito.

Tito menegaskan pemda harus melakukan inventarisasi titik rawan dan menyiapkan langkah mitigasi sejak dini. Ia juga mempersilakan pemda merelokasi warga yang tinggal di wilayah rawan bencana.

Tito mengatakan pemda harus berkaca dari kejadian tanah longsor di Cilacap dan Banjarnegara. Pemda harus memahami risiko jika masyarakat dibiarkan tinggal di daerah rawan titik bencana.

Jika ada kendala anggaran, pemda dapat memaksimalkan belanja tidak terduga (BTT).

“Kalau wilayahnya dianggap rawan, silakan direlokasi. Dukungan dari Pemkab Cilacap juga luar biasa solid. Presiden memerintahkan kami melihat langsung masalah yang perlu diselesaikan.

Baca Juga: Hadapi Bencana, BPBD Sleman Siapkan Program Strategis

Ada BTT yang bisa digunakan, Kemensos (Kementerian Sosial) juga sudah membantu. Jika kurang, nanti bisa ditambah. Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman juga dapat menjadikan ini prioritas rumah,” tutur Tito.

Dalam kesempatan itu, Tito juga menerima keluhan dari seorang warga, Dede Eko Prasetyo, yang kehilangan tiga anggota keluarganya, istri dan dua anak, dalam musibah longsor.

Satu anaknya hingga kini masih dalam pencarian. Dede mengungkapkan agar pemerintah pusat segera melakukan pemulihan pascabencana, serta membantu para korban dan keluarga korban yang ditinggalkan.

“Saya sudah mengadu ke Pak Tito. Saya kehilangan keluarga dan rumah saya hilang. Harta saya ikut tertimbun.

Pak Tito bilang akan berkoordinasi dengan kementerian lain untuk mencari solusi bagi para korban. Semoga ada realisasi,” kata Dede dengan mata berkaca-kaca.

Longsor di Desa Cibeunying terjadi pada Kamis (13/11/2025). Memasuki hari ketujuh pencarian, Tim SAR kembali menemukan dua jenazah pada Rabu (19/11/2025).

Dengan temuan tersebut, total 20 korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia, 23 orang selamat, dan tiga korban lainnya masih dalam pencarian.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.