Jogja

Ini Alasan Kenapa Cuaca Jogja Terasa Dingin Mbedidig Belakangan Ini

Yudi Permana | 11 Juli 2025, 07:00 WIB
Ini Alasan Kenapa Cuaca Jogja Terasa Dingin Mbedidig Belakangan Ini

Akurat.co, Jogja-Masyarakat Yogyakarta pasti merasakan cuaca yang menjadi dingin atau mbedidig, terutama saat sore menuju malam akhir-akhir ini.

Bagi yang tinggal di wilayah utara Yogyakarta, terutama kawasan Kaliurang, lereng Gunung Merapi, dan sekitarnya cuaca pasti akan terasa lebih ekstrem.

Cuaca dingin akan terasa saat waktu menunjukkan sore hari menuju malam. Dan saat waktu menjelang subuh.

Kira-kira apa penyebab dari cuaca dingin yang akhir-akhir ini dirasakan masyarakat Yogyakarta?

Baca Juga: 5 Fakta Penting Kematian Diplomat Muda Kemlu asal di Kamar Kos, Dimakamkan di Bantul, UGM Anggap Ada Ketidakwajaran

Awalnya banyak yang menyebutkan jika cuaca dingin belakangan ini disebabkan oleh fenomena Aphelion.

Aphelion adalah fenomena astronomi tahunan ketika Bumi berada pada titik terjauhnya dari Matahari. Biasanya terjadi pada bulan Juni.

Namun menurut BMKG, cuaca dingin yang dirasakan akhir-akhir ini bukan karena Aphelion. Cuaca dingin yang dirasakan masyarakat Indonesia, khususnya di wilayah selatan khatulistiwa, seperti Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara merupakan hal wajar saat musim kemarau tiba.

Musim kemarau terjadi antara Juni-September.

Nah, jadi cuaca dingin tersebut karena memang saat ini tengah memasuki musim kemarau. Ditandai dengan dominasi angin timuran (Monsun Australia) yang bersifat kering dan dingin.

Lalu langit cerah mempercepat pelepasan panas dari permukaan ke atmosfer saat malam hari.

Kemudian, hujan yang masih terjadi di beberapa wiyalah turut menambah rasa dingin karena membawa massa udara dingin dari awan ke permukaan dan menghalangi pemanasan sinar matahari.

BMKG juga mengingatkan bahwa curah hujan di atas normal masih akan terus terjadi meskipun Indonesia tengah memasuki musim kemarau.

Kondisi ini dikenal sebagai kemarau basah, dan diprediksi akan berlangsung hingga Oktober 2025.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menyampaikan, anomali ini telah terpantau sejak Mei lalu.

Baca Juga: Terekam CCTV, Ini Momen Terakhir Diplomat Muda Kemlu sebelum Ditemukan Meninggal Dunia

Salah satu penyebabnya adalah melemahnya Monsun Australia yang mengakibatkan suhu muka laut di selatan Indonesia tetap hangat. Dampaknya, awan-awan hujan terus terbentuk di banyak wilayah.

"Ini memperkuat potensi hujan yang tidak biasa di musim kemarau,” ungkap Dwikorita dalam konferensi pers daring bertajuk Perkembangan Cuaca dan Iklim, dikutip pada Jumat (11/7/2025).

Selain faktor suhu laut, aktifnya gelombang Kelvin di pesisir utara Jawa dan fenomena pelambatan serta belokan angin di wilayah Jawa barat dan selatan turut memperparah pembentukan awan hujan.

BMKG memastikan bahwa fenomena iklim global seperti ENSO (suhu muka air laut di Samudra Pasifik) dan IOD (suhu muka air laut di Samudra Hindia) saat ini berada dalam fase netral dan tidak signifikan memengaruhi pola cuaca Indonesia.

BMKG sebelumnya telah memprediksi sejak Maret 2025 bahwa kemarau tahun ini akan mengalami kemunduran di sekitar 29 persen zona musim (ZOM), terutama di Lampung, sebagian besar Pulau Jawa, Bali, NTB, dan NTT.

Hingga akhir Juni, baru sekitar 30 persen wilayah yang masuk musim kemarau, jauh di bawah angka normal sebesar 64 persen.

Baca Juga: PSS Sleman Gencar Kenalkan Pemain Baru, Kini Muhammad Junior Haqi Bela Laskar Sembada

Dwikorita mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai potensi cuaca ekstrem, terutama di daerah padat penduduk dan wilayah wisata seperti Jabodetabek, Sulawesi Selatan, NTB, Kalimantan Timur, Maluku, dan Papua.

Hujan dengan intensitas lebat hingga ekstrem telah terjadi di wilayah tersebut dalam beberapa hari terakhir.

BMKG juga mewaspadai cuaca ekstrem pada sepekan ke depan, terutama di Pulau Jawa bagian barat dan tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, NTB (termasuk Mataram), serta wilayah tengah dan utara Papua.

Puncaknya diperkirakan terjadi pada 10–12 Juli 2025 saat potensi hujan signifikan akan bergeser ke wilayah Indonesia tengah dan timur.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.