Jogja

Sri Sultan HB X Minta Tak Ada Lagi Keracunan MBG di Yogya

Yudi Permana | 27 September 2025, 09:05 WIB
Sri Sultan HB X Minta Tak Ada Lagi Keracunan MBG di Yogya

Akurat.co,Jogja-Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X meminta agar kasus keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) tak lagi terulang di wilayahnya.

“Hal-hal seperti ini jangan terulang,” ujar Sultan dikutip dari laman resmi Pemprov Jogja.

Menurut Sultan bukan perkara susah mencari kenapa keracunan terjadi. Kata Sultan, bahkan tak memerlukan ahli kimia sekalipun.

"Masaknya jam setengah dua pagi, dimakan jam delapan atau jam sepuluh saja sudah mesti wayu (basi). Udah. Itu airnya, disendok begini sudah mulur itu. Udah itu pasti. Ya, kan? Saya itu di rumah juga sering masak, jadi tahu,” kata Sri Sultan.

Baca Juga: Sambil Bawa Alat Masak, Ibu-ibu di Jogja ke Turun Jalan, Minta Presiden Prabowo Hentikan MBG

Sultan mencontohkan pengalamannya saat mengelola dapur umum kala terjadi bencana di Yogyakarta, salah satunya ketika erupsi Gunung Merapi.

Menurutnya, pengaturan waktu memasak menjadi kunci agar makanan tidak cepat basi. Selain itu Sri Sultan juga memiliki dapur umum untuk para korban gempa bumi tahun 2006 silam.

Dari situ tidak ditemukan adanya kasus keracunan makanan karena sistem pengelolaan dan menejemen yang baik.

“Setengah dua jangan masak sayur, tapi sudah pagi baru masak sayur, toh juga dimakan jam 10. Yang lain kira-kira digoreng dan sebagainya, itu didahulukan, sayurnya di belakang, jangan yang di muka. Jangan setengah dua, karena pasti wayu,” urai Sri Sultan.

Selain sayur, daging juga perlu dimasak dengan cara yang tepat agar tidak membahayakan kesehatan. Jika daging dimasak hingga benar-benar matang, tidak akan menimbulkan masalah.

Namun, bila hanya dimasak setengah matang lalu baru dipanaskan kembali keesokan paginya, daging yang awalnya masih berwarna merah bisa berubah kebiruan dan berisiko menyebabkan keracunan.

“Itu (daging) kalau pasti dimakan, dia pasti keracunan. Itu yang perlu diperhatikan. Jadi korban tidak akan berkurang selama pola masaknya tidak berubah,” ungkap Sri Sultan.

Sri Sultan menyebut, perlu adanya pengawasan yang ketat, serta perbaikan pola menejemen pengolahan pangan. Selain sudah pasti, kebersihan, pemilihan bahan, serta berbagai faktor pendukung lainnya yang juga perlu diperketat.

Baca Juga: SPPG Lalai, Komisi D DPRD DIY Pertanyaan Regulasi MBG

“Makanan bergizi dan sehat bagi anak-anak kita betul-betul dipertimbangkan masaknya, waktunya, dan tenaganya,” tegas Sri Sultan.

Sri Sultan menekankan pentingnya menyesuaikan kapasitas penyedia makanan dengan kemampuan sebenarnya.

Ia mencontohkan, jika sebuah katering hanya mampu menyiapkan 50 porsi per hari, maka tidak mungkin dipaksa untuk menyediakan hingga 100 porsi. Hal itu, menurutnya, justru berisiko menurunkan kualitas makanan.

“Dilihat kapasitas berapa dia setiap hari membuat paket, ya. Kalau paketnya itu hanya 50 porsi, disuruh 100 porsi. Enggak bisa itu,” tegas Sultan.

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.