Jogja

Berhasil Pulang, Warga Kulon Progo Ungkap Kisah Horor jadi Korban Perdagangan Orang di Kamboja

M. Mubin Wibawa | 19 November 2025, 08:12 WIB
Berhasil Pulang, Warga Kulon Progo Ungkap Kisah Horor jadi Korban Perdagangan Orang di Kamboja

Akurat.co,Jogja-Seorang warga Sindutan, Kulon Progo mengungkap kisah 'horornya' menjadi korban perdagangan orang (TPPO) setelah bisa kembali pulang ke kampung halaman.

Korban, bernama Herlambang, 23 tahun, mengungkap pengalaman yang dialaminya.

Ia menjelaskan bahwa pada akhir Agustus 2024, menerima tawaran kerja dari sebuah LPK di Surabaya dengan biaya Rp25 juta bersama sembilan orang lainnya.

“Prosesnya tidak sampai satu minggu, langsung dibelikan tiket. Dari Cengkareng ke Bandara Soetta, lalu transit enam jam di Malaysia sebelum dikirim ke Kamboja,” ungkapnya dikutip dari laman resmi Pemkab Kulon Progo, Rabu (19/11/2025).

Baca Juga: Di Hadapan Mahasiswa UNY, Wabup Kulon Progo Pamer Potensi Wilayah yang Tak Dimiliki Daerah Lain

Setibanya di Kamboja, kondisi yang ia temui sangat jauh dari yang dijanjikan.

Disetrum dan dipukul

Ia mengaku mendapat perlakuan tidak manusiawi dan hukuman fisik.

“Kalau salah, kami dipukul dan disetrum dua hingga sepuluh kali. Penjagaan ketat dan CCTV di mana-mana membuat kami takut. Tidak ada ruang untuk kabur,” terangnya.

Kesempatan melarikan diri baru muncul ketika ia dipindahkan ke gedung baru yang memiliki akses menuju sungai, hingga akhirnya ia bisa menuju KBRI dan dipulangkan ke Indonesia.

Herlambang memberikan pesan penting bagi calon pekerja migran.

“Jangan tergiur biaya murah seperti saya. Cari agen yang jelas dan terdaftar,” pesannya dengan tegas.

Baca Juga: Dorong Pertumbuhan Ekonomi, Kulon Progo Rencanakan Pengembangan Tiga Stasiun KA

Pemkab Kulon Progo komitmen melindungi warganya

Kisah itu disampaikan Herlambang saat diterima Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kulon Progo.

Bupati Kulon Progo, Drs. R. Agung Setyawan menyampaikan rasa syukur atas kepulangan Herlambang yang kini bisa berkumpul kembali dengan keluarga.

Namun, Agung juga menyoroti tingginya risiko yang dihadapi para pekerja migran ilegal di negara tujuan.

"Kalau dokumen-dokumen belum lengkap, biasanya TKI itu lari ke hutan atau ladang ketika ada razia. Situasinya sangat berbahaya,” ungkapnya.

Dalam kesempatan ini, Agung juga menegaskan kembali komitmennya dalam melindungi warganya yang bekerja di luar negeri, terutama terkait meningkatnya kasus tindak pidana perdagangan orang (TPPO).

Bupati mengungkapkan bahwa data dari kedutaan menunjukkan situasi yang cukup memprihatinkan.

“Ada 300 WNI yang menjadi korban human trafficking dan operator scam judi online di Asia Tenggara, khususnya Kamboja,” ungkap Agung.

Sementara itu Lurah Sindutan, R. Sumarwanto menyampaikan ungkapan terima kasih atas langkah cepat Pemkab dalam membantu proses pemulangan Herlambang, warga Sindutan yang menjadi korban.

Ia menjelaskan bahwa kasus ini bermula ketika korban melapor kepada Jogoboyo Kalurahan Sindutan.

“Awalnya Herlambang berangkat sebagai calon TKI ke Taiwan dan Thailand, namun di tengah proses justru dibawa ke Malaysia dan Kamboja. Ini jelas tidak sesuai janji kesepakatan awal,” ujar Sumarwanto.

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.