Jogja

Bikin Salut, Anak Panti Asuhan di Jogja Sukses Kembangkan Produk Madu

Haris Ma'ani | 31 Juli 2026, 12:05 WIB
Bikin Salut, Anak Panti Asuhan di Jogja Sukses Kembangkan Produk Madu
Wali Koita Jogja, Hasto Wardoyo menunjukkan produk madu Surya Asy-Syifa yang dikenbangkan anak panti yatim putra Muhammadiyah. (foto: dok.pemkot jogja)

Akurat.co,Jogja-Kisah menginspirasi datang dari anak-anak panti asuhan yatim putra Muhammadiyah Yogyakarta.

Di tengah keterbatasan lahan, mereka bisa mengembangkan produk dari hasil ternak lebah yang dilakukan.

Produk madunya dengan brand Surya Asy-Sifa bahkan diluncurkan secara resmi oleh Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, Kamis (30/7).

Baca Juga: Pastikan Bantuan Tepat Sasaran, Rumah Warga Miskin di Gunungkidul Dipasangi Stiker

Pengelola Peternakan Lebah Panti Asuhan Yatim Putra Muhammadiyah Yogyakarta, Bambang, menjelaskan bahwa budidaya lebah madu tersebut memang dirancang sebagai media pembelajaran sekaligus pemberdayaan bagi anak-anak panti.

Menurutnya, keterampilan beternak menjadi salah satu bekal agar mereka memiliki kemampuan berwirausaha setelah mandiri.

"Tujuan utamanya adalah melatih anak-anak panti supaya nantinya mereka memiliki keterampilan beternak dan bisa mandiri. Harapannya, ilmu yang mereka peroleh di sini dapat menjadi bekal ketika sudah hidup di masyarakat," jelas Bambang.

Ia menjelaskan, jenis lebah yang dibudidayakan adalah Apis mellifera, salah satu spesies lebah penghasil madu yang dikenal memiliki produktivitas tinggi.

Menariknya, sumber pakan lebah berasal dari berbagai tanaman berbunga yang dibudidayakan di sekitar lingkungan panti asuhan.

Dengan demikian, seluruh proses budidaya memanfaatkan potensi lingkungan yang ada tanpa harus bergantung pada lokasi perkebunan yang luas.

Menurut Bambang, meskipun baru berjalan sekitar tiga bulan, hasil budidaya tersebut sudah menunjukkan perkembangan yang menggembirakan.

Dalam sekali panen, madu yang dihasilkan mampu mencapai sekitar 200 hingga 500 gram dari koloni yang siap dipanen.

Saat ini, terdapat sebanyak 11 rumah lebah yang dikelola di lingkungan panti.

Namun, jumlah tersebut memang masih dibatasi mengingat kondisi kawasan perkotaan yang memiliki ruang terbatas serta faktor cuaca yang cukup panas sehingga menjadi tantangan tersendiri dalam pengembangan budidaya.

"Kami saat ini memiliki 11 rumah lebah. Jumlahnya memang belum banyak karena untuk pengembangan yang lebih besar idealnya berada di kawasan perkebunan," jelasnya.

Selain keterbatasan lahan, pihaknya juga menghadapi tantangan cuaca yang cukup panas sehingga pengelolaannya harus lebih hati-hati.

Secara khusus Hasto menyampaikan apresiasi tinggi atas inisiatif yang dilakukan pengelola panti asuhan.

Menurutnya, budidaya lebah madu merupakan sebuah inovasi yang patut dikembangkan, terlebih dilakukan di Kota Yogyakarta yang memiliki keterbatasan lahan.

Baca Juga: Vindoty's Kitchen and Lab, Hidden Gem di Jogja yang Bikin Dian Sastrowardoyo Penasaran

Ia menilai keterbatasan ruang tidak menjadi penghalang untuk menciptakan kegiatan produktif yang bernilai ekonomi sekaligus memberikan manfaat bagi lingkungan.

"Di tengah keterbatasan lahan yang dimiliki Kota Yogyakarta, ternyata masih bisa dikembangkan budidaya lebah madu seperti ini," ujarnya.(*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.