Jogja

Musim Hujan DIY Mulai November 2026, Dua Wilayah Ini Bakal Basah Duluan

Atiek Widyastuti | 30 September 2026, 14:40 WIB
Musim Hujan DIY Mulai November 2026, Dua Wilayah Ini Bakal Basah Duluan
Tangkapan layar Kepala Stasiun Klimatologi DIY, Mamenun saat ekspose prediksi musim hujan 2026/2027 di DIY. - Akurat.co/Atiek Widyastuti

Akurat.co, Jogja - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) DIY memprediksi, awal musim hujan di DIY akan terjadi pada pekan ketiga di Bulan November 2026.

Pada saat itu, dua wilayah di DIY ini akan mengalami musim hujan pada awal. Kedua wilayah tersebut, yakni Kabupaten Kulon Progo bagian utara dan Kabupaten Sleman bagian utara dan tengah.

Hal ini disampaikan Kepala Stasiun Klimatologi DIY, Mamenun dalam Ekspose Informasi Prediksi Musim Hujan 2026/2027 DIY, Rabu (30/09/2026).

Mamenun menjelaskan, dalam kurun waktu 30 tahun terakhir (1991 - 2020), awal musim hujan 2026/2027 di DIY mundur tiga dasarian di seluruh wilayah DIY.

Baca Juga: Susun Raperda Penanggulangan Bencana, DPRD DIY Kolaborasi dengan BMKG DIY

“Mundurnya musim hujan ini merupakan dampak dari El Nino yang juga mengakibatkan terjadi Hari Tanpa Hujan (HTH) berkepanjangan, termasuk di DIY," jelasnya.

Berdasarkan hasil pantauan BMKG di 103 pos hujan se-DIY, 81 pos diantaranya mengalami HTH ekstrem dengan durasi lebih dari 60 hari. Tercatat daerah dengan HTH terpanjang di DIY terjadi di Pajangan Kabupaten Bantul, yakni 141 hari.

Selanjutnya, daerah dengan prediksi awal musim hujan 2026/2027 pada Desember minggu pertama ialah Kulon Progo bagian timur, Kota Yogyakarta, Sleman bagian timur, selatan dan Barat, Bantul bagian utara serta Gunungkidul bagian utara.

Daerah yang baru akan mengalami awal musim hujan di Desember minggu kedua diprediksi dialami Kulon Progo bagian Barat dan Selatan, Bantul bagian timur, barat, selatan dan Gunungkidul bagian timur, barat, dan selatan.

Baca Juga: BMKG DIY Kabarkan Gempa Bumi Guncang Banjarnegara Jawa Tengah

Prediksi durasi musim hujan 2026/2027, kisaran 16-18 dasarian akan dialami Kulon Progo bagian utara. Selanjutnya, 13-15 dasarian di wilayah Kulon Progo bagian barat, timur, dan selatan, Kabupaten Sleman, Kota Yogyakarta, Bantul dan Gunungkidul.

Untuk puncak musim hujan 2026/2027 diprediksi akan terjadi di bulan Februari. Terutama di wilayah Kulon Progo bagian utara dan timur, Sleman, Kota Yogyakarta, Bantul bagian utara; serta Gunungkidul bagian barat.

"Sementara daerah yang akan mengalami puncak musim hujan di bulan Maret ialah Kulon Progo bagian barat dan selatan, Bantul bagian selatan dan sebagian besar Gunungkidul, jelasnya.

Untuk prediksi akhir musim hujan 2026/2027 akan mulai dialami pada April 2027 di minggu pertama. Terutama untuk wilayah Sleman bagian barat, selatan dan timur. Kota Yogyakarta, Bantul bagian utara, Kulon Progo bagian timur dan Gunungkidul bagian utara.

Baca Juga: BMKG Ungkap Pemahaman Potensi Gempa Bumi Jadi Kunci Upaya Mitigasi Bencana

Daerah yang diprediksi mengalami akhir musim hujan pada April minggu kedua ialah Sleman bagian utara dan tengah, serta April minggu ketiga akan dialami Kulon Progo bagian utara, barat dan selatan.

Kabupaten Bantul bagian tengah dan selatan serta Gunungkidul bagian tengah dan selatan.

Dari data prediksi tersebut, Stasiun Klimatologi DIY merekomendasikan beberapa hal.

Sektor Pangan

Penyesuaian jadwal tanam dan memilih varietas tanaman yang memiliki siklus tanam yang lebih pendek, serta melakukan pengendalian organisme pengganggu tanaman.

Baca Juga: BMKG Ungkap Pemahaman Potensi Gempa Bumi Jadi Kunci Upaya Mitigasi Bencana

Sektor Sumber Daya Air

Pemanfaatan air hujan, serta menambah kapasitas tampung pada skala rumah tangga. Termasuk identifikasi potensi cekungan air tanah dan lokasi sumur juga perlu dilakukan. Selain itu, perlu juga mengoptimalkan pengelolaan drainase dan konservasi air secara berkelanjutan.

Sektor Energi

Mengatur inflow dan elevasi waduk, serta pelepasan air secara proporsional untuk operasional PLTA.

Sektor Lingkungan

Menyiapkan mekanisme response atas kondisi kualitas udara buruk yang berkepanjangan, akibat mundurnya awal musim hujan. Selain itu, perlu mengoptimalkan sirkulasi udara ruangan untuk menurunkan kelembaban saat musim hujan.

Sektor Kesehatan

Pemberantasan sarang nyamuk dan larvasi, serta menyiapkan fasilitas kesehatan untuk mengantisipasi lonjakan kasus demam berdarah, serta penyakit akibat genangan pasca hujan atau banjir.

Sektor Kebencanaan

Waspada dengan kekeringan dan kebakaran hutan atau lahan, serta optimalkan sistem drainase dan kesiapan evakuasi mengantisipasi bencana banjir dan longsor pada awal dan puncak musim hujan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.