Jogja

Alasan di Balik Penataan Pengamen di Malioboro

Haris Ma'ani | 27 Oktober 2026, 08:44 WIB
Alasan di Balik Penataan Pengamen di Malioboro
Potret ilustrasi musisi jalanan atau pengamen di kawasan Malioboro. -foto: AI

Akurat.co,Jogja-Pemkot Jogja serius menata keberadaan musisi jalanan atau pengamen di kawasan Malioboro.

Apa alasan di balik penataan musisi jalanan Malioboro yang kini dikerjakan Pemkot?

Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo mengatakan keberadaan musisi di Malioboro itu menjadi bagian yang mewarnai Malioboro karena tidak bisa dipisahkan dengan karya dan aktivitas budaya, seniman serta budayawan.

Menurutnya kehidupan berkesenian dengan adanya musisi bagian dari citra budaya di Malioboro sudah menjadi suatu keniscayaan tidak bisa dihilangkan.

Baca Juga: Pakar UGM Ungkap Akar Masalah Polemik Royalti Lagu, Uangnya Tak Sampai ke Musisi

Aktivitas tersebut juga menjadi sumber kehidupan.

Meski demikian para musisi harus bisa ditata dan memiliki rasa ‘sithik edhing’ (tenggang rasa dan toleransi) dengan masyarakat dan pelaku di kawasan Malioboro.

“Harus bisa ditata. Maka mereka-mereka para musisi itu harus bisa 'sithik edhing'-lah. Tidak sak penake dhewe (seenaknya sendiri), tapi ditata," ujar Hasto usai FGD terkait musisi Malioboro di Taman Pintar, Senin (26/10/2026).

Hasto juga mengatakan jumlah musisi dalam FGD itu disepakati maksimal sekitar 180 sesuai yang ada selama ini.

"Akan kita pertahankan nanti kita cari solusi. Kalau kurang titik kita cari titik-titiknya lagi,” ujarnya.

Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Yetti Martanti menjelaskan sampai kini ada sekitar 182 musisi Malioboro yang sudah terkurasi.

Musisi berbagai genre itu atas kesepakatan bersama dihadirkan dalam 21 grup.

Mereka menempati 7 titik atraksi yang disiapkan Pemkot Yogyakarta.

Dia berharap para musisi menggunakan tempat itu dengan sebaik-baiknya dengan menjaga ketertiban, kebersihan dan aturan-aturan di kawasan Malioboro.

Misalnya terkait parkir kendaraan dan kawasan tanpa rokok di Malioboro.

Termasuk sikap saling toleransi dengan para pelaku dan masyarakat yang bertempat tinggal di Malioboro.

Sementara itu, Ketua Paseduluran Malioboro, Alvon Ditya mengucapkan terima kasih kepada pemkot yang menyediakan 7 titik di Malioboro untuk mendukung aktivitas para musisi.

Dia menyebut di Malioboro ada sekitar 27 grup musisi. Tapi yang melakukan aktivitas mengamen hanya sekitar 23 grup.

Baca Juga: Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo: Pengamen di Malioboro Harus Punya Standar Tinggi

Sebagian grup adalah band, tapi tidak mengamen.

“Kalau dari kami kesulitannya adalah ketika tujuh titik yang diberikan itu kenyataanya sekarang tinggal lima.

Sekarang kondisinya kami ini hanya ada di titik Tugu, titik Mutiara, DPRD, Pasar Beringharjo, dan Pasar Sore,” tandas Alvon.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.