Pakar Unsoed: Kampus Harus Ambil Peran dalam Isu Ketahanan Pangan

Akurat.co,Jogja-Pakar dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Prof. Dr. Ali Rokhman, M.Si mengungkap, kampus harus bisa mengambil peran dalam isu ketahanan pangan.
"Kalau dengar kata ketahanan pangan, yang terbayang biasanya bukan kampus. Lebih sering sawah luas, petani berkeringat, traktor," ungkapnya.
Padahal, kata dia, kampus bisa mengambil peran strategis dalam soal ketahanan pangan.
Baca Juga: Masyarakat Girikerto Turi Kini Miliki Taman Ketahanan Pangan
Pakar Kebijakan Publik dan Sistem Informasi Manajemen ini menjelaskan, peran kampus dalam isu strategis ketahanan pangan.
Pertama, karena kampus adalah tempatnya riset. Di mana riset pertanian, pangan, dan lingkungan terus dilakukan dan berkembang.
Kedua, kampus memiliki mahasiswa dalam jumlah besar.
"Program KKN, magang, dan MBKM bisa diarahkan lebih serius ke isu pangan," jelas mantan dekan FISIP Unsoed ini.
Mahasiswa pertanian, teknik, ekonomi, bahkan komunikasi bisa diterjunkan ke desa-desa pangan.
Ketiga, kampus bisa berperan sebagai laboratorium kebijakan.
Pemerintah sering butuh dasar ilmiah sebelum mengambil keputusan, entah soal subsidi pupuk, diversifikasi pangan, atau cadangan beras.
Keempat, kampus punya fungsi edukasi publik. Ketahanan pangan bukan cuma urusan petani dan pemerintah, tapi juga konsumen.
"Kampus bisa mengedukasi soal pola konsumsi, diversifikasi pangan lokal, dan pentingnya mengurangi food waste.
Kalau mahasiswa saja masih membuang nasi di kantin, agak susah berharap mereka nanti peduli krisis pangan," ujarnya dalam keterangannya, Kamis (21/1/2026).
Peran Unsoed dalam isu ketahanan pangan
Prof Ali mencontohkan bagaimana Unsoed sudah memberikan contoh nyata dalam isu ketahanan pangan.
Dari Fakultas Pertanian, tim peneliti yang dipimpin Prof. Totok Agung Dwi Haryanto bersama kolega berhasil mengembangkan dan menguji beberapa benih padi unggul, antara lain varietas INPAGO.
Benih-benih ini telah diuji tanam langsung di lahan sawah yang tersebar di Kabupaten Brebes, Purbalingga dan Banyumas, wilayah yang dikenal memiliki lahan sawah dengan tantangan iklim dan kesuburan yang beragam.
Baca Juga: Pakar IPB Nilai Kebijakan Mendagri Soal Tata Ruang Kunci Ketahanan Pangan
Hasilnya tidak main-main. Uji lapangan menunjukkan produktivitas yang tinggi (antara 7,5-9 ton/ha) dan stabil dengan kandungan zinc dan protein tinggi yang baik untuk pencegahan stunting.
Terkait ketahanan pangan, hasil riset dan inovasi Unsoed tidak hanya benih padi tapi juga banyak karya inovasi lainnya, seperti pengawet nira yang dibuat Karseno, Ph.D.
Ada juga inovasi deteksi dini mastitis pada sapi oleh Dr. Hermawan Setyo Widodo, inovasi pengawet makanan dari bunga kecombang oleh Prof. Dr Rifda Naufalin, dan inovasi pupuk N-Zeo-SR plus untuk pertumbuhan tanaman oleh Prof. Kharisun, Ph.D.
"Ketika kampus mau serius turun ke lapangan dan bekerja bersama petani, ketahanan pangan bukan lagi jargon kebijakan, melainkan hasil nyata," tutupnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Oase Malioboro Siap Sambut Wisatawan di Libur Akhir Tahun
- 2DIY Siapkan 203 Event Sepanjang 2027
- 3Daftar Lengkap Pemain PSIM untuk League Cup, 3 Asing dan 6 EPA
- 4Dosen UMY Ungkap Penyebab Boikot RANS Carnival Yogyakarta
- 5Bongkahan Es Sebesar Kelapa Timpa Rumah Warga di Bantul, Ini Faktanya...
- 6Mahasiswa UAJY Ciptakan Masker Biomaterial Pencegah Debu Silika Industri
- 7Hujan Es Gegerkan Bantul, BMKG Jogja Ungkap Penyebabnya
- 8Fenomena Warga Miskin RI, Beli Rokok Lebih Utama ketimbang Makanan Bergizi
- 9Jadwal I League Cup Hari Ini: PSS Jamu PSGC Ciamis
- 10Pemkab Bantul Salurkan Bantuan 2.000 Ekor Ayam Petelur ke Warga





