Pakar UGM Sebut Salju Abadi Puncak Jaya akan Hilang, Kenapa?

Akurat.co,Jogja- Salju abadi yang selama ini ada di Puncak Jaya Papua disebut akan hilang.
Hal ini disampaikan pakar hidrometeorologi, iklim perkotaan, dan klimatologi lingkungan dari Fakultas Geografi UGM, Dr. Emilya Nurjani.
Emilya menjelaskan, lapisan es yang menyelimuti puncak Jaya Papua selama ribuan tahun diprediksi terancam akan hilang akibat peningkatan suhu bumi.
Baca Juga: UGM Luncurkan Kendaraan Listrik untuk Layanan Rumah Sakit
Ia menyampaikan ketebalan gletser di belahan Bumi utara dan selatan memang mengalami penyusutan baik dari segi luas maupun tebal.
Lebih spesifik, ia menyebutkan dua gunung es wilayah tropis dengan jumlah degradasi yang cukup signifikan, terjadi pada Puncak Gunung Kilimanjaro, Afrika dan Puncak Jaya, Indonesia.
Penyusutan lapisan es ini menurut Emilya disebabkan oleh dampak dari radiasi matahari dengan gelombang pendek merupakan sumber energi utama yang menggerakan cuaca dan iklim di bumi.
Menurutnya, segala jenis penggunaan atau penutupan lahan di permukaan di bumi akan menyerap dan melepaskan energi dari radiasi matahari, seperti pembukaan lahan untuk pertanian, pemukiman, waduk, beton, bahkan es dan salju di wilayah kutub.
Pakar klimatologi lingkungan ini menjelaskan, salah satu bentuk penyusutan gletser adalah mencairnya es di banyak wilayah kutub dan pegunungan di Benua Eropa.
Es yang mencair menyebabkan peningkatan volume air laut.
Volume air laut yang meningkat menyebabkan kenaikan muka air laut dan menyempitnya luas daratan rendah akibat terendam.
Baca Juga: UGM Buka Pendaftaraan Jalur Mandiri, Ini Jadwal, Biaya, dan Ketentuannya
“Dampak yang dapat dirasakan oleh masyarakat Indonesia adalah fenomena abrasi dan kenaikan muka air laut di daerah Semarang atau pesisir utara Jawa," katanya.
Untuk mencegah dampak yang semakin parah adalah mengupayakan dekarbonisasi, atau menurunkan peningkatan suhu permukaan bumi dengan mendorong dekarbonisasi lintas sektor dan regulasi pemanfaatan lahan perlu benar-benar diimplementasikan.
"Di tingkat rumah tangga, kita bisa membantu dengan melakukan penghematan listrik, mengurangi pemakaian bahan bakar fosil, dan apabila mungkin, berpartisipasi dalam usaha pohon untuk membantu menurunkan suhu udara dalam jangka panjang,” tuturnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Pemda DIY Gelar Lomba Desa/Kampung Wisata 2026, Berikut Daftar Pemenangnya
- 2PLN Yogya Edukasi 175 Siswa SDN di Bantul tentang Hemat Listrik
- 3PB Djarum Juara Umum Piala Raja Hamengku Buwono X 2026, Borong 21 Medali
- 4Pilihan Warna Baru New Honda Stylo 160: Tampil Lebih Retro dan Premium!
- 5Liga Seri A Askab PSSI Sleman 2026 Resmi Bergulir, Diikuti 8 Tim
- 6Kontingen Bantul Raih Juara Umum PORPRISA DIY 2026
- 7Meninggal di Usia 67 Tahun, Ini Kisah Hidup Den Baguse Ngarso
- 8Satu Tahun Wajah Baru Pasar Godean: Ada Pembagian 4.000 Porsi Makanan Gratis!
- 9Pilihan Warna Baru New Honda Stylo 160: Tampil Lebih Retro dan Premium!
- 10Kena Hukuman Tambahan Kartu Merah, Purzycki Absen Lawan Persija







