Jogja

Ramai Kasus Pelecehan Digital Nadhif Basalamah, Pakar UMY Ingatkan Pentingnya Empati Digital

Haris Ma'ani | 2 Juli 2026, 11:02 WIB
Ramai Kasus Pelecehan Digital Nadhif Basalamah, Pakar UMY Ingatkan Pentingnya Empati Digital
Musisi Indonesia, Nadhif Basalamah mengdapatkan pelecehan di media sosial. (foto: instagram/nadhifbasalamah)

Akurat.co,Jogja-Dunia hiburan Tanah Air kembali dihebohkan kasus pelecehan verbal melalui media sosial yang diarahkan kepada musisi muda, Nadhif Basalamah.

Nadhif mengungkapkan pelecehan verbal yang dialaminya melalui platform X dan TikTok sudah di luar batas.

Pelantun “Kota Ini Tak Sama Tanpamu” bahkan mengaku tidak sanggup lagi menghadapi derasnya pelecehan seksual tersebut.

Nadhif pun akhirnya sampai berbicara ke publik atau speak up terkait kasusnya.

Baca Juga: Suka Diabaikan Pendaki, Dokter UMY Berikan Tips Mudah Kenali Gejala Hipotermia

“I don’t know whether it’s right to speak up and I’m shaking as I’m typing this but the amount of harassment I’ve been receiving online here on X & TikTok is unbearable,” tulisnya.

Menanggapi kasus ini, Pakar Komunikasi dan Media sekaligus Dosen Ilmu Komunikasi UMY, Dr. Fajar Junaedi, menilai ruang digital di Indonesia belum sepenuhnya aman, sehat, dan beradab bagi setiap individu.

“Ruang digital semestinya menjadi tempat untuk bertukar gagasan, memberikan apresiasi, maupun kritik yang membangun. Ruang maya bukan arena untuk melakukan objektifikasi dan pelecehan,” tegas Fajar melalui keterangan tertulisnya, dikutip dari laman resmi UMY, Kamis (2/7/2026).

Fajar menambahkan, kebebasan berekspresi memang bagian penting dari demokrasi, namun hak tersebut selalu beriringan dengan tanggung jawab etis.

Menumbuhkan digital empathy

Ketika sebuah komentar mulai merendahkan, menyakiti, atau mengganggu kesehatan mental orang lain, maka kebebasan tersebut telah melanggar nilai moral.

“Kasus ini menunjukkan bahwa literasi digital masyarakat kita masih perlu diperkuat," terangnya.

Literasi digital bukan sekadar kemampuan menggunakan media sosial atau memahami teknologi.

Lebih dari itu, ia mencakup kemampuan berpikir kritis, membangun empati, dan bertanggung jawab atas setiap jejak digital yang ditinggalkan.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya digital empathy (empati digital).

Konsep ini merupakan kemampuan pengguna untuk menyadari bahwa di balik setiap akun media sosial, ada manusia nyata yang memiliki perasaan dan bisa mengalami tekanan psikologis akibat komentar yang mereka terima.

“Setiap pengguna media sosial perlu membiasakan diri melakukan refleksi sebelum mengetik komentar," terangya.

Sebelum berkomentar di media sosial, tanyakan pada diri sendiri: apakah komentar ini menghormati orang lain?

Apakah layak disampaikan secara langsung? Dan apa dampaknya bagi penerima?

Baca Juga: 5 Fakta Menarik Mukmin Juara SUCI 12, Alumni UMY yang Sempat jadi Marbot

Pertanyaan sederhana ini perlu menjadi bagian dari budaya bermedia sosial,” imbaunya.

Fajar menilai keputusan Nadhif Basalamah untuk menyampaikan keberatannya secara terbuka di media sosial dinilai sebagai praktik literasi digital yang sangat positif.

Keberanian tersebut tidak hanya melindungi dirinya sendiri, tetapi juga mendorong tumbuhnya kesadaran publik mengenai pentingnya menciptakan ruang siber yang aman.

Menurut Fajar, kasus Nadhif sejatinya adalah cerminan dari kondisi masyarakat digital saat ini.

Tanpa penguatan etika komunikasi, ruang maya berpotensi menjadi tempat yang toksik bagi siapa pun untuk berkarya dan berinteraksi.(*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.