Jogja

Rektor UMY Kritik Rencana Pendirian URI, Bisa Pengaruhi Dana Bantuan PTS hingga Beasiswa KIP

Haris Ma'ani | 3 Agustus 2026, 09:02 WIB
Rektor UMY Kritik Rencana Pendirian URI, Bisa Pengaruhi Dana Bantuan PTS hingga Beasiswa KIP
Rektor UMY, Achmad Nurmandi. (foto: dok.UMY)

Akurat.co,Jogja-Rencana pemerintah mendirikan Universitas Republik Indonesia (URI) mendapatkan kritik dari Rektor UMY, Prof. Dr. Achmad Nurmandi, M.Sc.

Nurmandi menyoroti konsekuensi pembiayaan URI terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Menurutnya, pembangunan perguruan tinggi baru membutuhkan investasi yang besar.

Baca Juga: UMY Gunakan Live TikTok dan Game Roblox sebagai Media Promosi

Anggaran tersebut mencakup penyediaan lahan, pembangunan infrastruktur, perekrutan dosen, pengadaan laboratorium, pemberian beasiswa, hingga biaya operasional.

"Pendirian perguruan tinggi baru membutuhkan alokasi anggaran yang signifikan. Hal ini perlu dipertimbangkan secara cermat di tengah keterbatasan anggaran pendidikan nasional saat ini,” katanya dikutip dari laman resmi UMY, Senin (3/8).

Ia mengkhawatirkan pembiayaan URI dapat memengaruhi ruang fiskal bagi program pendidikan tinggi lainnya apabila pemerintah tidak menjelaskan sumber pendanaan dan pembagian anggaran secara terbuka.

Padahal sejumlah program tetap harus dijaga dengan APBN.

Antara lain pendanaan penelitian dosen, bantuan bagi perguruan tinggi swasta, peningkatan mutu perguruan tinggi di daerah, serta Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP).

Selain itu arah program studi di bidang science, technology, engineering, and mathematics (STEM) juga dinilai menimbulkan persoalan.

"Pemerintah perlu memastikan pembentukan perguruan tinggi baru tidak tumpang tindih dengan program yang telah diselenggarakan perguruan tinggi negeri maupun swasta," ujarnya.

Memicu persaingan dalam rekrutmen dosen

Selain itu, Nurmandi mengatakan pendirian perguruan tinggi baru berpotensi memicu persaingan dalam perekrutan dosen berkualifikasi tinggi.

Terlebih, pengembangan program berbasis STEM, kesehatan, dan kedokteran membutuhkan dosen, laboratorium, fasilitas penelitian, serta sistem penjaminan mutu yang memadai.

Ia menambahkan bahwa dosen dengan jabatan akademik lektor kepala dan guru besar masih banyak terkonsentrasi di perguruan tinggi besar.

Apabila URI merekrut tenaga pengajar dari perguruan tinggi yang telah ada tanpa strategi penambahan dan regenerasi dosen, pembentukan kampus baru berpotensi menggeser sumber daya, bukan memperluas kapasitas pendidikan nasional.

Baca Juga: Fenomena Sekolah Negeri Sepi Peminat, Pakar UMY: Pemerataan Bukan Berdasar Jarak Semata

“Persoalannya bukan hanya membangun gedung atau membuka program studi. Perguruan tinggi membutuhkan dosen berkualifikasi, peneliti, laboratorium, tata kelola akademik, serta ekosistem keilmuan yang tidak dapat dibentuk dalam waktu singkat,” katanya.(*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.