Jogja

RI Ekspor Listrik ke Singapura, Dosen UGM: Peluang jadi Raja Energi Hijau Dunia

M. Mubin Wibawa | 11 September 2025, 13:05 WIB
RI Ekspor Listrik ke Singapura, Dosen UGM: Peluang jadi Raja Energi Hijau Dunia

Akurat.co,Jogja-Indonesia telah meneken nota kesepahaman dengan pemerintah Singapura tentang kerja sama ekspor listrik.

Nota kesepahaman tersebut dianggap sebagai langkah penting Indonesia menjadi 'raja energi hijau dunia'.

Hal tersebut disampaikan Dosen Departemen Teknik Nuklir dan Teknik Fisika, Fakultas Teknik UGM, Rachmawan.

Ia menilai kerja sama ini sebagai peluang besar bagi Indonesia. Pasalnya, kesepakatan ini membuka peluang untuk mengekspor produk dengan nilai tambah tinggi, bukan lagi sekadar ekspor barang mentah.

Baca Juga: Fenomena Jaga Warga dan Siskamling Kembali Menggeliat di Masyarakat, Ini Kata Pakar UGM

“Ekspor listrik ini adalah salah satu caranya, karena kita tidak lagi menjual barang mentah, tapi produk olahan,” jelasnya dilansir dari laman resmi UGM, Kamis (11/9/2025).

Selain itu, Rachmawan menilai proyek ini akan memberikan nilai tambah signifikan bagi perekonomian nasional.

Ekspor listrik akan mendorong pembangunan pembangkit di dalam negeri, sehingga dapat membuka lapangan pekerjaan yang luas dan diharapkan mampu meningkatkan penggunaan komponen lokal.

Tidak hanya itu, Rachmawan juga menyoroti keuntungan dari sisi harga. Sebab, harga yang dipatok adalah harga internasional sehingga menarik bagi pelaku usaha dan bisa menguntungkan bagi negara.

Ia meyakini, apabila ekspor listrik berjalan dengan lancar, hal ini akan mendorong pertumbuhan green economy.

Apalagi pendapatan diperoleh dari penjualan listrik yang dihasilkan dari komoditas beremisi rendah.

“Kita menghasilkan income dengan aktivitas yang low carbon," ujarnya.

Baca Juga: Mau Tahu? Segini Tunjangan Rumah Anggota DPRD Yogyakarta

Soal adanya kekhawatiran akan pasokan listrik domestik, Rachmawan memberikan analogi bahwa Pulau Sumatra memiliki area yang sangat luas dengan berbagai potensi energi, seperti Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTGU) dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).

“Artinya, jika kita hanya membutuhkan sebagian kecil area Sumatera untuk ekspor listrik ke Singapura, saya rasa tidak akan terlalu berdampak bagi pasokan kebutuhan listrik lainnya di sekitar Sumatera.” jelasnya.

Menanggapi skema bisnis yang akan diterapkan, Rachmawan menekankan pentingnya perhitungan yang matang dan menarik bagi semua pihak, baik Singapura maupun perusahaan swasta.

Ia menjelaskan bahwa jika skemanya tidak kompetitif, pihak swasta mungkin akan lebih memilih berinvestasi di negara tetangga. “Jika itu terjadi, kita akan kehilangan peluang besar ini.” ujarnya.

Skema kerja sama ekspor listrik yang disusun harus mampu menarik investor agar Indonesia tetap menjadi pemain utama dalam proyek ini.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.