Jogja

Berawal dari Dapur Rumah, Ini Cerita Inspiratif Bolosego

Haris Ma'ani | 21 September 2026, 08:56 WIB
Berawal dari Dapur Rumah, Ini Cerita Inspiratif Bolosego
Salah satu outlet Bolosego. -foto: dok. Novan Dhika via Google

Akurat.co,Jogja- Pencinta kuliner di Yogyakarta atau Tanah Air pasti sudah mencicipi kelezatan menu dari Bolosego.

Tapi, siapa nyana bahwa perjalanan Bolosego hingga menjadi saat ini merupakan buah proses panjang dan kerja keras.

Bolosego memulai perjalanan pada 2020 dari sebuah dapur rumah bersama tim kecil.

Baca Juga: 5 Fakta Penting Dugaan Pungli di Alkid Jogja yang Diungkap Pemilik Bolosego, Keraton hingga Polisi Buka Suara

Pemilik Bolosego Dyah Layli Fardisa mengisahkan, Bolosego berawal dari kisah keterpurukan.

Dyah adalah korban PHK saat zaman Covid-19. Dari sana ide mendirikan Bolosego berawal.

Ia mengisahkan, suatu hari mengunjungi warung makan langganannya semasa kuliah.

Ia mendapati bahwa sang pemilik warung pun mengalami nasib serupa, berhenti berjualan akibat pandemi.

Dari situ muncul ide untuk berkolaborasi. Dyah akan mengurus strategi pemasaran, sementara sang pemilik warung kembali memasak dengan resep andalannya.

Saat itu Dyah tak mempunyai modal besar. Ia pun memulai dari dapur rumah dengan peralatan seadanya bersama empat rekannya.

Pelanggan pertama datang dari teman dan keluarga. Sambutan atas produk kulinernya lumayan baik, tetapi kritik soal rasa dan kemasan juga datang.

Alih-alih patah semangat, Dyah justru menjadikan kritik tersebut sebagai bahan pembelajaran.

Ia mulai mengikuti berbagai pelatihan untuk meningkatkan kualitas produk dan kemasan.

Sampai ia mengirimkan ulang produk yang telah diperbaiki kepada pelanggan awal sebagai bentuk komitmen dan permintaan maaf.

Perlahan tapi pasti, kualitas produk Bolosego meningkat dan mulai mendapat tempat di hati konsumen.

Setelah beberapa bulan beroperasi, rumah produksi dipindahkan dari dapur rumah ke sebuah kontrakan kecil.

Tim Bolosego, yang saat itu masih sangat terbatas, harus merangkap berbagai peran untuk menjalankan operasional sehari-hari.

Meski sudah berjalan, bukan berarti Bolosego berjalan tanpa tantangan berikutnya.

Tantangan nyatanya datang silih berganti. Mulai tunggakan pembayaran kontrakan karena keterbatasan dana, lalu dunia digital.

Produk Bolosego sempat dikritik oleh seorang influencer di media sosial.

Semua itu dilalui Dyah dengan sikap pantang menyerah. Kritik dijadikan jalan memperbaiki produk.

Dikutip dari tulisan di Kompasiana, keberhasilan Dyah dalam membangun branding Bolosego tidak terlepas dari latar belakang pengalamannya di bidang pemasaran.

Ia menyadari bahwa dalam dunia kuliner, produk mungkin serupa, namun cerita di baliknya adalah sesuatu yang unik dan tak bisa ditiru.

"Produk boleh sama, tapi cerita di baliknya dan keasliannya tidak bisa disamai," ujar Dyah saat acara workshop POP 2025 bertema "PR Strategist for Creative Economy" yang diselenggarakan oleh mahasiswa Ilmu Komunikasi UIN Sunan Kalijaga.

Dikutip dari website resmi Bolosego, kini mereka mengklaim mampu memproduksi 1.000 porsi lebih seharinya.

Dipercaya oleh pelanggan dari dalam kota Jogja dan luar kota.

Produk Bolosego juga bisa dinikmati dalam beragam suasana melalui beragam cara.

Mulai datang langsung ke resto, menu ricebowl, take-away, produk siap santap, sampai dijadikan oleh-oleh.

Baca Juga: Alasan Kenapa Kuliner Khas Jogja Ini Dinamakan Serabi Kocor

"Bolosego mengembangkan produk dan pelayanan melalui berbagai jalur agar dapat menjangkau pelanggan umum sekaligus mitra bisnis," jelas mereka di websitenya.

Bukan hanya itu, Bolosego juga mampu membuka lapangan kerja bagi yang memerlukan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.