Menikmati Racikan Jamu Ginggang, Jamunya Keluarga Bangsawan yang Kini Bisa Dinikmati Masyarakat Biasa

Akurat.co, Jogja-Di Yogyakarta ada satu penjual jamu yang dulunya hanya melayani keluarga bangsawan saja, yakni Jamu Ginggang.
Dulu jamu racikan Mbah Joyo ini tidak bisa diminum sembarang orang. Jamu tersebut dibuat dibuat khusus untuk keluarga bangsawan di Kadipaten Pakualaman.
Karena kebaikan hati Sri Pakualam VII, resep rahasianya akhirnya boleh dinikmati masyarakat umum.
Perjalanan Jamu Ginggang sampai hari ini sudah mengalami proses panjang. Mulai jualan jamu gendongan, jualan di emper toko, hingga memiliki tempat jualan sendiri sejak 1950.
Menariknya nama Ginggang memiliki sejarah kuat. Diambil dari julukan Sri Paduka Pakualam VII ke Mbah Joyo.
Baca Juga: Catat! Ini 10 Titik Parkir Kota Yogyakarta yang Sudah Terima Pembayaran dengan Qris
Saat ini jamu yang beralamat di Jalan Masjid PA, 32 RT 34 RW 09, Gunung Ketur, Pakualaman, Yogyakarta, dikelola generasi kelima, Ike Yulita Astiani atau akrab disapa Bu Yayuk.
Sebagai penerus usaha, Yayuk sudah dididik dan dipersiapkan sejak kecil. Sejak masih bersekolah di SD hingga kuliah, ia selalu diminta untuk membantu produksi Jamu Ginggang.
Sepulang sekolah hingga kuliah, ia ditugaskan untuk menghaluskan bahan jamu seperti kunyit dan kencur.
Berawal dari membantu itulah Yayuk jatuh cinta kepada jamu. Ditambah lagi jamu adalah salah satu warisan leluhurnya.
Resep leluluhur Keraton Pura Pakualaman
Yayuk mengungkap, resep Jamu Ginggang didapat dari leluhurnya yang merupakan abdi dalem Keraton Pura Pakualaman.
Leluhur Yayuk, Mbah Jaya atau Joyo mendapat mandat dari Sri Paduka Pakualam VII untuk menjadi tabib di lingkungan Pakualaman. Resep Jamu Ginggang didapat langsung dari Sri Paduka Pakualam VII.
Racikan jamu Mbah Joyo ternyata dirasakan langsung manfaatnya oleh Pakualaman VII.
Dari hubungan emosional antara tabib dan tuannya, membuat Sri Sri Paduka Pakualam VII memberikan julukan Tan Genggang atau Tansah Gengggang kepada Mbah Joyo.
Baca Juga: Ayam Goreng Mbah Tumbu: Legendarisnya Rasa Otentik dari Dapur Pedesaan Gunungkidul
Kalau diartikan ke Bahasa Indonesia berarti hubungan yang abadi.
Usaha kuliner tradisional ini dimulai pada 1925. Setelah Mbah Joyo meninggal, usahanya diteruskan Mbah Bilowo, yang juga tabib Pakualam VII.
Dari Mbah Bilowo, usaha ini dilanjutkan ke generasi ketiga yakni Mbah Kasidah yang membuat Jamu Ginggang terkenal pada 1970.
Mbah Kasidahlah yang membuka tempat dan mau jualan keliling ke Pasar Gede atau Pasar Beringharjo.
Popularitas Jamu Ginggang semakin meningkat karena khasiat dari resep leluhur dan cita rasa enak.
Jenis jamu yang ada di Jamu Ginggang antara lain jamu beras kencur, kunyit asem, parem, pahitan, jamu sehat laki-laki, jamu pegel laki-laki, galian putri, galian singset, serta jamu terlambat bulan.
Favorit jamu yang selalu ia pesan adalah jamu beras kencur kental. Jenis jamu tersebut sangat enak dan bisa menghangatkan badan.
Kini, berkat kemurahan hati Sri Paduka Pakualam VII masyarakat biasa pun jadi bisa merasakan khasiat dari Jamu Ginggang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Dispar Bantul Gelar Pameran Layang-Layang 'Akasa Cangkring' di Pantai Cangkring
- 2Lewat Program Masdaku, Diskop UKM Sleman Dorong 111 Ribu UMKM Go Digital
- 3Satu Tahun Wajah Baru Pasar Godean: Ada Pembagian 4.000 Porsi Makanan Gratis!
- 4KPU dan Bawaslu Sleman Sinkronisasi Data Pemilih Triwulan III 2026
- 5UAJY Gelar International Cross Cultural Day 2026 di Yogyakarta, Pertemukan Budaya Berbagai Negara
- 6Pilihan Warna Baru New Honda Stylo 160: Tampil Lebih Retro dan Premium!
- 7Liga Seri A Askab PSSI Sleman 2026 Resmi Bergulir, Diikuti 8 Tim
- 8Kontingen Bantul Raih Juara Umum PORPRISA DIY 2026
- 9Kalah dalam 3 Laga Awal, Fans PSS Berharap Finis 10 Besar
- 10UGM Kembangkan Gula Semut Kulon Progo jadi Produk Ekspor




