Fenomena Jaga Warga dan Siskamling Kembali Menggeliat di Masyarakat, Ini Kata Pakar UGM

Akurat.co,Jogja-Saat ini kesadaran masyarakat untuk saling menjaga serta kembalinya sistem keamanan keliling (siskamling) tengah kembali menggeliat.
Fenomena ini muncul pascademontrasi yang berakhir rusuh di sejumlah wilayah Indonesia pada akhir Agustus hingga awal September 2025.
Pakar Universitas Gadjah Mada (UGM) Dr. Wenty Marina Minza, S.Psi., M.A. melihat fenomena tersebut selaras dengan temuan penelitian berjudul “My Neighbor, My Friend: The Relevance of Support, Closeness, and History of Relations in Neighborhood Friendship”.
Dosen Fakultas Psikologi UGM tersebut menilai kajian yang dilakukan beserta timnya terhadap penelitian tersebut cukup relevan dengan keadaan saat ini.
Dikutip dari laman resmi UGM, hasil penelitian menemukan tiga faktor utama yang membuat pertemanan antarwarga tetap bertahan.
Baca Juga: Dishub DIY Ajak Masyarakat Kembali ke Moda Transportasi Tradisional Ramah Lingkungan
Dukungan, baik yang bersifat praktis maupun emosional, menjadi ciri pertama yang menandai seseorang dianggap teman.
Kedekatan kemudian memperkuat dukungan itu, menghadirkan rasa akrab, kepercayaan, dan keterikatan emosional yang sering kali dimaknai seperti keluarga sendiri.
Sejarah hubungan menjadi faktor unik, karena pengalaman bersama sejak kecil atau kegiatan di kampung mampu menumbuhkan pertemanan lintas generasi.
“Ketiga unsur tersebut bekerja saling melengkapi dalam memastikan pertemanan tetap terjaga,” jelasnya.
Ketika ditanyakan tentang fenomena warga jaga warga yang muncul belakangan ini, Wenty menilai ada keterkaitan meski dalam level yang berbeda.
Pertemanan antarwarga berada pada ranah interpersonal, sementara solidaritas seperti warga jaga warga lebih pada level komunitas.
Namun, komunitas yang diwarnai banyak relasi pertemanan interpersonal tentu memiliki peluang lebih besar untuk kohesif.
Baca Juga: Pemda Diminta Aktifkan Lagi Siskamling, Muncul Kesadaran Jaga Wilayah Pascakerusuhan Demonstrasi
Dalam konteks krisis, kedekatan yang sudah terjalin di level personal sering kali memudahkan terbentuknya solidaritas kolektif.
Ikatan yang berangkat dari pengalaman sehari-hari itulah yang kemudian berkembang menjadi kekuatan bersama menjaga lingkungan.
“Suatu kelompok atau komunitas yang relasi intrakelompoknya diwarnai banyak pertemanan interpersonal, akan memiliki peluang lebih besar untuk kohesif,” terangnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Hyundai STARGAZER Cartenz Resmi Meluncur, Ini Fitur Unggulannya untuk Liburan di Jogja
- 2DPRD DIY Minta Menkeu Batalkan Pemangkasan Dana Transfer Daerah
- 3392 Maba UP45 dapat Pembekalan Bela Negara
- 4DPRD DIY Berharap Menteri Keuangan Baru Pertimbangkan Pemangkasan Anggaran Daerah
- 5Sempat Diperkenalkan PSS, Kenapa Hanif Sjahbandi ke Arema?
- 6Pemkot Jogja Tertibkan 4 Reklame Besar Ilegal
- 7Jelang Derby, Kelompok Suporter PSIM dan PSS Sepakat Menjaga Keamanan
- 82 Atlet Tembak Asal Gunungkidul Perkuat Kontingen Indonesia di Asian Games ke-20
- 9Sempat Diperkenalkan PSS, Kenapa Hanif Sjahbandi ke Arema?
- 105 Fakta Penting Dugaan Pungli di Alkid Jogja yang Diungkap Pemilik Bolosego, Keraton hingga Polisi Buka Suara









