Jogja

Jumlah Wisatawan Asing Alami Penurunan, Wali Kota Yogyakarta: Perlu Event Besar Berdampak Internasional

M. Mubin Wibawa | 31 Oktober 2025, 06:52 WIB
Jumlah Wisatawan Asing Alami Penurunan, Wali Kota Yogyakarta: Perlu Event Besar Berdampak Internasional

Akurat.co,Jogja-Jumlah wisatawan asing yang berkunjung ke Kota Yogyakarta mengalami penurunan dibanding tahun 2024.

Kunjungan turis asing hingga akhir tahun 2025 hanya sekitar 300.000 wisawatan. Menurun dari sekitar 400.000 di tahun sebelumnya.

Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo mengungkap, perlunya menambah atraksi wisata agar wisawatan asing bisa tinggal lebih lama.

Hasto mengatakan, cukup sekitar 10 event besar yang dikurasi, tapi memiliki dampak internasional.

Baca Juga: Mantan Bupati Sleman Jadi Tersangka Kasus Korupsi Dana Hibah Pariwisata

Hasto menilai perlunya reformasi pariwisata di Yogyakarta agar wisatawan semakin betah tinggal di kota pelajar tersebut.

"Kita mulai dari hal sederhana, seperti menjaga kebersihan dan ketertiban, bahkan lomba kebersihan toilet pun bisa menjadi langkah awal reformasi pariwisata,” kata Hasto seusai Rapat Koordinasi Pengendalian (Rakordal) Pembangunan Daerah Triwulan III Tahun Anggaran 2025 yang digelar di Kepatihan Pemda DIY, Selasa (30/10).

Wisata berbasis budaya dan kearifan lokal

Dalam Rakordal bertema “Transformasi Pariwisata DIY untuk Mendukung Perekonomian Daerah” tersebut, Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X juga menyoroti pentingnya transformasi pariwisata berbasis budaya dan kearifan lokal.

“Keunggulan pariwisata DIY terletak pada wisata berbasis budaya. Ada Keraton, pusat-pusat budaya Jawa, Malioboro sebagai ikon wisata, serta Prambanan sebagai daya tarik dunia,” ungkapnya.

Meski demikian, Sri Sultan menilai masih ada tantangan yang perlu dibenahi seperti keterbatasan infrastruktur, pengelolaan sampah, dan kemacetan di kawasan wisata utama.

Oleh karena itu, transformasi pariwisata tidak hanya menambah destinasi baru, tetapi juga membangun sistem yang tangguh, ramah lingkungan, inklusif, dan berkelanjutan.

Baca Juga: 27 Kampung Wisata di Kota Jogja Hanya Separuh yang Aktif, Lainnya Hanya Sebatas Papan Nama

“Transformasi ini harus mengakomodasi kelompok rentan, berbasis budaya lokal, serta didukung ekosistem pariwisata yang kuat. Kita harus mengembangkan pariwisata yang terintegrasi dengan ekonomi kreatif dan memanfaatkan teknologi digital di semua lini,” ujarnya.

Tambahnya, pemerintah daerah juga sedang menyiapkan Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Daerah (Riparda) periode baru 2026–2045, menggantikan dokumen sebelumnya yang berakhir tahun ini.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.