Jumlah Wisatawan Asing Alami Penurunan, Wali Kota Yogyakarta: Perlu Event Besar Berdampak Internasional

Akurat.co,Jogja-Jumlah wisatawan asing yang berkunjung ke Kota Yogyakarta mengalami penurunan dibanding tahun 2024.
Kunjungan turis asing hingga akhir tahun 2025 hanya sekitar 300.000 wisawatan. Menurun dari sekitar 400.000 di tahun sebelumnya.
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo mengungkap, perlunya menambah atraksi wisata agar wisawatan asing bisa tinggal lebih lama.
Hasto mengatakan, cukup sekitar 10 event besar yang dikurasi, tapi memiliki dampak internasional.
Baca Juga: Mantan Bupati Sleman Jadi Tersangka Kasus Korupsi Dana Hibah Pariwisata
Hasto menilai perlunya reformasi pariwisata di Yogyakarta agar wisatawan semakin betah tinggal di kota pelajar tersebut.
"Kita mulai dari hal sederhana, seperti menjaga kebersihan dan ketertiban, bahkan lomba kebersihan toilet pun bisa menjadi langkah awal reformasi pariwisata,” kata Hasto seusai Rapat Koordinasi Pengendalian (Rakordal) Pembangunan Daerah Triwulan III Tahun Anggaran 2025 yang digelar di Kepatihan Pemda DIY, Selasa (30/10).
Wisata berbasis budaya dan kearifan lokal
Dalam Rakordal bertema “Transformasi Pariwisata DIY untuk Mendukung Perekonomian Daerah” tersebut, Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X juga menyoroti pentingnya transformasi pariwisata berbasis budaya dan kearifan lokal.
“Keunggulan pariwisata DIY terletak pada wisata berbasis budaya. Ada Keraton, pusat-pusat budaya Jawa, Malioboro sebagai ikon wisata, serta Prambanan sebagai daya tarik dunia,” ungkapnya.
Meski demikian, Sri Sultan menilai masih ada tantangan yang perlu dibenahi seperti keterbatasan infrastruktur, pengelolaan sampah, dan kemacetan di kawasan wisata utama.
Oleh karena itu, transformasi pariwisata tidak hanya menambah destinasi baru, tetapi juga membangun sistem yang tangguh, ramah lingkungan, inklusif, dan berkelanjutan.
Baca Juga: 27 Kampung Wisata di Kota Jogja Hanya Separuh yang Aktif, Lainnya Hanya Sebatas Papan Nama
“Transformasi ini harus mengakomodasi kelompok rentan, berbasis budaya lokal, serta didukung ekosistem pariwisata yang kuat. Kita harus mengembangkan pariwisata yang terintegrasi dengan ekonomi kreatif dan memanfaatkan teknologi digital di semua lini,” ujarnya.
Tambahnya, pemerintah daerah juga sedang menyiapkan Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Daerah (Riparda) periode baru 2026–2045, menggantikan dokumen sebelumnya yang berakhir tahun ini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Dispar Bantul Gelar Pameran Layang-Layang 'Akasa Cangkring' di Pantai Cangkring
- 2Lewat Program Masdaku, Diskop UKM Sleman Dorong 111 Ribu UMKM Go Digital
- 3Satu Tahun Wajah Baru Pasar Godean: Ada Pembagian 4.000 Porsi Makanan Gratis!
- 4KPU dan Bawaslu Sleman Sinkronisasi Data Pemilih Triwulan III 2026
- 5UAJY Gelar International Cross Cultural Day 2026 di Yogyakarta, Pertemukan Budaya Berbagai Negara
- 6Pilihan Warna Baru New Honda Stylo 160: Tampil Lebih Retro dan Premium!
- 7Liga Seri A Askab PSSI Sleman 2026 Resmi Bergulir, Diikuti 8 Tim
- 8Kontingen Bantul Raih Juara Umum PORPRISA DIY 2026
- 9Kalah dalam 3 Laga Awal, Fans PSS Berharap Finis 10 Besar
- 10UGM Kembangkan Gula Semut Kulon Progo jadi Produk Ekspor




