Jogja

Penyebab Harga Cabai di Gunungkidul Tembus Rp80 Ribu per Kg

M. Mubin Wibawa | 4 Desember 2025, 17:06 WIB
Penyebab Harga Cabai di Gunungkidul Tembus Rp80 Ribu per Kg

Akurat.co,Jogja-Menjelang libur natal dan tahun baru 2026, harga cabai di Gunungkidul menembus Rp80.000 per kilogram (kg).

Hal ini diketahui seusai pantauan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) DIY, Rabu (3/12/2025) kemarin.

Pantauan dilakukan di antaranya di Pasar Playen dan Swalayann Pamela 9.

Kepala Biro Perekonomian dan Sumber Daya Alam DIY, Eling Priswanto mengatakan, kenaikan harga cabai kali ini memang cukup terasa karena sebagian besar wilayah pemasok tengah mengalami penurunan produksi.

Baca Juga: Jelang Natal dan Tahun Baru 2026, Harga Cabai dan Sayuran di Jogja Melonjak

“Hari ini harga cabai mencapai sekitar Rp80.000. Ini cukup tinggi, tapi secara pola memang hampir setiap tahun seperti itu,” ujar Eling.

Erling menjelaskan dua faktor utama yang memengaruhi kenaikan harga cabai adalah perubahan cuaca dan serangan hama.

Intensitas hujan tinggi pada akhir tahun menyebabkan produktivitas tanaman menurun, sementara hama lebih mudah berkembang.

“Curah hujan dan serangan hama selalu memengaruhi suplai cabai. Karena produksinya turun, otomatis harganya terdorong naik,” tambahnya.

Selain cabai, beberapa komoditas lain seperti wortel, tomat, dan sayuran hijau juga mengalami kenaikan harga.
Rata-rata kenaikan berada pada rentang Rp3.000-Rp4.000.

Beberapa harga komoditas pangan di Gunungkidul adalah gula pasir dikisaran harga Rp17.000,00/kg; telur Rp30.000,00/kg; terigu Rp10.000/kg; beras premium Rp73.300,0/5g; Minyak goreng Rp17.000/kg; Ayam Rp37.000,00/kg; cabai Rp80.000,00/kg.

Baca Juga: Inflasi DIY Terkendali, Masuk Kategori Rendah di Pulau Jawa

Meski begitu, Eling memastikan bahwa situasi secara keseluruhan masih terkendali.

“Ketersediaan barang masih aman. Permintaan memang meningkat menjelang akhir tahun, tapi sejauh ini stok tidak ada persoalan,” tegasnya.

Jika gejolak harga semakin tinggi, TPID juga siap menggelar operasi pasar dan pasar murah.

Sejauh pemantauan dilakukan, distribusi pangan di wilayah Jawa masih lancar karena tidak terdampak bencana besar seperti di beberapa daerah lain.

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.