Jogja

Tanam 5.000 Bibit Pohon Mangrove, Cegah Abrasi Pesisir Selatan DIY

Yudi Permana | 7 Desember 2025, 09:44 WIB
Tanam 5.000 Bibit Pohon Mangrove, Cegah Abrasi Pesisir Selatan DIY

Akurat.co, Jogja - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul menemukan fakta, jika hampir seluruh wilayah pesisir selatan telah mengalami abrasi.
 
Jarak terjauh mencapai 96 meter dan laju rata-rata mencapai 2,3 meter per tahun. Hal itu dipicu meningkatnya frekuensi badai siklon dan berkurangnya sedimen sungai.
 
Hal tersebut diungkapkan Bupati Bantul Abdul Halim Muslih saat penanaman 5.000 bibit pohon mangrove di Pantai Baros Tirtoharjo Kretek Bantul, Sabtu (06/12/2025).
 
Kegiatan yang diinisiasi oleh Amartha.org dan dihadiri langsung Bupati Bantul Abdul Halim Muslih ditujukan guna mencegah abrasi yang mengancam kawasan pesisir Bantul.
 
 
Abdul Halim Muslih mengatakan, upaya penanaman pohon itu merupakan langkah strategis menghadapi ancaman abrasi dan intrusi di wilayah pesisir selatan Bantul yang dikenal memiliki karakter ombak besar. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri, sehingga perlu dukungan berbagai pihak sebagai upaya mitigasi.
 
"Penanaman mangrove akan memperbaiki lingkungan hidup kita dan meningkatkan resiliensi Pantai Baros dari abrasi maupun intrusi yang membahayakan daratan,” ujarnya.
 
Untuk itu, ia mengaku bangga melihat keterlibatan ratusan anak muda, terutama Gen Z, yang turun langsung menanam bibit mangrove.
 
“Saya sangat bersyukur, banyak generasi muda yang memiliki pemahaman baik dan kepedulian tinggi terhadap isu lingkungan,” katanya.
 
Aksi penanaman 5.000 pohon mangrove di Pantai Baros, menurut bupati merupakan wujud kolaborasi antara pemerintah, komunitas lingkungan, dan generasi muda.
 
 
Kegiatan ini juga untuk menambah tutupan vegetasi sekaligus juga mengikat peran generasi muda dalam menjaga masa depan pesisir.
 
Chairman Amarta.org, Aria Widyanto menjelaskan, penanaman mangrove di Baros merupakan bagian dari upaya meningkatkan ketangguhan masyarakat lokal terhadap dampak perubahan iklim.
 
Menurutnya, keberlanjutan lingkungan memiliki kaitan langsung dengan kesejahteraan masyarakat, khususnya pelaku UMKM yang menjadi fokus pihaknya.
 
“Risiko perubahan iklim dapat mengancam kesejahteraan para pelaku UMKM. Karena itu intervensi lingkungan seperti ini adalah investasi jangka panjang agar mereka tetap memiliki peluang berkembang,” ucap Aria.
 
Aria juga menekankan alasan kuat melibatkan anak muda dalam kegiatan ini. Selain edukasi, pihaknya ingin menciptakan rasa memiliki terhadap lingkungan.
 
 
“Kalau lingkungan rusak, yang paling dirugikan adalah masa depan generasi muda. Karena itu kami mengajak Gen Z untuk tidak hanya sadar, tetapi juga terlibat langsung sebagai relawan,” kata dia.
 
Kegiatan ini melibatkan sekitar 80 relawan dari Jakarta dan sekitarnya terjun langsung di Pantai Baros untuk menanam mangrove.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.