Tingkatkan Pengalaman Berwisata, Pemkot Jogja Rancang Program Bule Mengajar

Akurat.co,Jogja-Pemkot Jogja merancang program Bule Mengajar sebagai salah satu bentuk pengembangan pariwisata dan edukasi.
Konsep ini sejalan dengan pemikiran agar wisatawan di Yogyakarta tak sekadar jadi penonton, tapi bagian dari aktivitas sosial dan kebudayaan warga.
Program ini dirancang sebagai aktivitas edukatif sekaligus atraksi wisata, khususnya bagi wisatawan asing yang berkunjung ke Yogyakarta.
Baca Juga: Mengagumi Batik Tulis Klasik di Desa Wisata Wukirsari
“Kalau karya, kreativitas, dan inovasi terus lahir, itu sudah menjadi modal besar.
Tinggal bagaimana kita menyusunnya menjadi rencana yang memberi daya ungkit bagi ekonomi dan kemajuan wilayah,” kata Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo dalam agenda Focus Group Discussion (FGD) dengan Dewan Kebudayaan Kota Yogyakarta Selasa (20/1/2026).
Melalui skema ini, wisatawan asing tidak hanya menjadi penonton, namun terlibat langsung dalam aktivitas belajar dan berbagi pengetahuan.
Seperti pengenalan budaya lokal, kedisiplinan, hingga interaksi sosial dengan masyarakat dan anak-anak.
Program tersebut diusulkan digelar pada waktu-waktu tertentu, seperti Sabtu pagi, ketika aktivitas wisata relatif tidak padat.
Sebagai bentuk apresiasi, wisatawan yang mengikuti program kita beri sertifikat penghargaan.
"Ya dari wali kota atas partisipasi mereka dalam kegiatan sosial dan kebudayaan. Jadi pengalamannya tidak hanya berwisata saja, tapi ada dampak yang didapatkan dan diberikan oleh wisatawan,” ungkap Hasto.
Indeks Pembangunan Kebudayaan tertinggi nasional
Di sisi lain, Perwakilan Dewan Kebudayaan Kota Yogyakarta, Setyo Harwanto, menyampaikan Kota Yogyakarta saat ini memiliki Indeks Pembangunan Kebudayaan 73,79 tertinggi secara nasional.
Selain itu, terdapat lebih dari 400 komunitas dan pelaku seni budaya yang memiliki kesadaran hukum dan kelembagaan.
Baca Juga: Mencicipi Apem Beras di Pasar Ngasem, Kuliner Kaya Rasa yang Tetap Lestari
Namun demikian, ia mengungkapkan adanya tantangan besar berupa tekanan gentrifikasi pariwisata.
Banyak usaha dan atraksi budaya tumbuh di Yogyakarta, namun manfaat ekonominya belum sepenuhnya dirasakan oleh masyarakat lokal.
“Perputaran uang sering kali tidak tinggal di Yogyakarta. Ini menjadi tantangan bagaimana kebudayaan naik kelas, dari program berbasis orientasi kegiatan menjadi program yang berorientasi pasar, tanpa kehilangan nilai budaya,” ujarnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Hyundai STARGAZER Cartenz Resmi Meluncur, Ini Fitur Unggulannya untuk Liburan di Jogja
- 2DPRD DIY Minta Menkeu Batalkan Pemangkasan Dana Transfer Daerah
- 3392 Maba UP45 dapat Pembekalan Bela Negara
- 4DPRD DIY Berharap Menteri Keuangan Baru Pertimbangkan Pemangkasan Anggaran Daerah
- 5Sempat Diperkenalkan PSS, Kenapa Hanif Sjahbandi ke Arema?
- 6Pemkot Jogja Tertibkan 4 Reklame Besar Ilegal
- 7Jelang Derby, Kelompok Suporter PSIM dan PSS Sepakat Menjaga Keamanan
- 82 Atlet Tembak Asal Gunungkidul Perkuat Kontingen Indonesia di Asian Games ke-20
- 9Sempat Diperkenalkan PSS, Kenapa Hanif Sjahbandi ke Arema?
- 105 Fakta Penting Dugaan Pungli di Alkid Jogja yang Diungkap Pemilik Bolosego, Keraton hingga Polisi Buka Suara





