Jogja

Tingkatkan Pengalaman Berwisata, Pemkot Jogja Rancang Program Bule Mengajar

M. Mubin Wibawa | 21 Januari 2026, 10:05 WIB
Tingkatkan Pengalaman Berwisata, Pemkot Jogja Rancang Program Bule Mengajar

Akurat.co,Jogja-Pemkot Jogja merancang program Bule Mengajar sebagai salah satu bentuk pengembangan pariwisata dan edukasi.

Konsep ini sejalan dengan pemikiran agar wisatawan di Yogyakarta tak sekadar jadi penonton, tapi bagian dari aktivitas sosial dan kebudayaan warga.

Program ini dirancang sebagai aktivitas edukatif sekaligus atraksi wisata, khususnya bagi wisatawan asing yang berkunjung ke Yogyakarta.

Baca Juga: Mengagumi Batik Tulis Klasik di Desa Wisata Wukirsari

“Kalau karya, kreativitas, dan inovasi terus lahir, itu sudah menjadi modal besar.

Tinggal bagaimana kita menyusunnya menjadi rencana yang memberi daya ungkit bagi ekonomi dan kemajuan wilayah,” kata Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo dalam agenda Focus Group Discussion (FGD) dengan Dewan Kebudayaan Kota Yogyakarta Selasa (20/1/2026).

Melalui skema ini, wisatawan asing tidak hanya menjadi penonton, namun terlibat langsung dalam aktivitas belajar dan berbagi pengetahuan.

Seperti pengenalan budaya lokal, kedisiplinan, hingga interaksi sosial dengan masyarakat dan anak-anak.

Program tersebut diusulkan digelar pada waktu-waktu tertentu, seperti Sabtu pagi, ketika aktivitas wisata relatif tidak padat.

Sebagai bentuk apresiasi, wisatawan yang mengikuti program kita beri sertifikat penghargaan.

"Ya dari wali kota atas partisipasi mereka dalam kegiatan sosial dan kebudayaan. Jadi pengalamannya tidak hanya berwisata saja, tapi ada dampak yang didapatkan dan diberikan oleh wisatawan,” ungkap Hasto.

Indeks Pembangunan Kebudayaan tertinggi nasional

Di sisi lain, Perwakilan Dewan Kebudayaan Kota Yogyakarta, Setyo Harwanto, menyampaikan Kota Yogyakarta saat ini memiliki Indeks Pembangunan Kebudayaan 73,79 tertinggi secara nasional.

Selain itu, terdapat lebih dari 400 komunitas dan pelaku seni budaya yang memiliki kesadaran hukum dan kelembagaan.

Baca Juga: Mencicipi Apem Beras di Pasar Ngasem, Kuliner Kaya Rasa yang Tetap Lestari

Namun demikian, ia mengungkapkan adanya tantangan besar berupa tekanan gentrifikasi pariwisata.

Banyak usaha dan atraksi budaya tumbuh di Yogyakarta, namun manfaat ekonominya belum sepenuhnya dirasakan oleh masyarakat lokal.

“Perputaran uang sering kali tidak tinggal di Yogyakarta. Ini menjadi tantangan bagaimana kebudayaan naik kelas, dari program berbasis orientasi kegiatan menjadi program yang berorientasi pasar, tanpa kehilangan nilai budaya,” ujarnya.

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.