Pastikan Gigi Sehat dan Kuat, Pelajar Kota Jogja Ikuti Program Pemberian Fluoride

Akurat.co,Jogja-Pemkot Jogja memastikan gigi para pelajar sehat dan kuat dengan pelaksanaan pemberian fluoride.
Program pemberian fluoride varnish diberikan kepada seluruh pelajar Kota Jogja dari jenjang SD, SMP, hingga SMA.
Sebanyak 743 anak sudah mendapatkan fluoride
Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM), Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, dr. Iva Kusdyarini, hingga 31 Desember 2025 sebanyak 743 anak telah mendapatkan aplikasi fluoride.
Pelaksanaan dilakukan secara bertahap karena ketersediaan bahan medis habis pakai (BMHP) dan fluoride berasal dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melalui Direktorat Jenderal Penanggulangan Penyakit dan Direktorat Penyakit Tidak Menular.
Baca Juga: 34 Ribu Warga Sleman Status BPJS Kesehatan Dinonaktifkan, Dinsos Ambil Langkah Ini
Dalam skrining kesehatan gigi sekolah, petugas memeriksa kondisi gigi dan mulut anak untuk mendeteksi dini karies, penyakit gusi, serta kebersihan rongga mulut.
Menurut dr. Iva, program ini tidak sekadar pemeriksaan namun sebagai bentuk pencegahan terhadap timbulnya karies pada siswa.
“Tujuannya mencegah komplikasi gigi yang lebih berat, meningkatkan kesadaran menjaga kebersihan gigi, serta edukasi pola hidup sehat," ungkapnya.
Apa itu fluoride?
Fluoride berfungsi untuk memperkuat enamel gigi, mencegah karies membantu remineralisasi gigi, mengurangi sensitivitas pada gigi.
Aplikasi dilakukan oleh dokter gigi atau terapis menggunakan fluoride NaF 5%, kemudian diulang setiap enam bulan sesuai evaluasi risiko karies.
Salah satu yang sudah melakukan pemberian fluoride adalah Puskesmas Danurejan I untuk siwa SD Negeri Tegalpanggung.
Kepala Puskesmas Danurejan I, dr. Dewi Widowati menjelaskan, pemberian fluoride merupakan langkah baru setelah bertahun-tahun hanya melakukan pemeriksaan.
Baca Juga: Ratusan Pelajar di Bantul Ikuti Pelatihan Penanganan Bencana Gempa Bumi
“Yang dioles justru gigi sehat untuk mencegah kerusakan. Kalau sudah keropos harus ditangani dulu,” katanya.
Namun pelaksanaan masih terbatas karena jumlah bahan. Satu botol hanya cukup sekitar 20 anak dan diberikan dua kali, sehingga sekolah dipilih secara bertahap.
“Kami diberi 10 botol cukup untuk 200 siswa. sebelum pengolesan, siswa mendapat penyuluhan dan praktik sikat gigi bersama," katanya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.





