Jogja

Waspada! Satu dari 5 Anak Indonesia Alami Obesitas, Dosen UMY Ungkap Penyebabnya

Haris Ma'ani | 22 Oktober 2026, 11:29 WIB
Waspada! Satu dari 5 Anak Indonesia Alami Obesitas, Dosen UMY Ungkap Penyebabnya
Ilustrasi iobesitas pada anak. -foto: https://www.magnifi/andreas

Akurat.co,Jogja- Majalah Kesehatan Indonesia menganalisis 152 penelitian mengenai anak usia sekolah dan remaja di Indonesia.

Metaanalis pada 22 Mei 2026 tersebut menunjukkan prevalensi gabungan kelebihan berat badan (overweight) dan obesitas mencapai 18,13 persen, sedangkan prevalensi obesitas sebesar 7,49 persen.

Penelitian tersebut juga memproyeksikan prevalensi gabungan kelebihan berat badan dan obesitas dapat meningkat menjadi 23,02 persen pada 2050.

Baca Juga: Proses Pergantian Kapolri Berlangsung Kilat, Ini Kata Pakar UMY

Menyikapi ini, Dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dr. H. M. Bambang Edi Susyanto mengatakan peningkatan kasus kelebihan berat badan dan obesitas pada anak merupakan fenomena yang terjadi di berbagai negara dalam tiga dekade terakhir, termasuk Indonesia.

Menurutnya, kondisi tersebut tidak hanya terlihat dalam berbagai penelitian, tetapi juga dijumpai dalam praktik klinis sehari-hari.

Apa penyebabnya utamanya?

Bambang menjelaskan bahwa kelebihan berat badan dan obesitas pada dasarnya terjadi ketika energi yang masuk ke dalam tubuh tidak seimbang dengan energi yang dikeluarkan.

Ketika asupan energi terus-menerus melebihi kebutuhan tubuh, kelebihannya akan disimpan sebagai lemak dan meningkatkan risiko obesitas.

Kondisi tersebut dapat dipengaruhi oleh berbagai kebiasaan sehari-hari.

Kurangnya aktivitas fisik, tingginya durasi penggunaan gawai atau waktu layar (screen time), konsumsi pangan ultra-proses yang cenderung tinggi energi, gula, lemak, dan garam, serta pola tidur yang kurang baik merupakan sejumlah faktor yang perlu diperhatikan.

Kebiasaan menghabiskan banyak waktu di depan layar, misalnya, dapat mengurangi kesempatan anak untuk bergerak aktif.

"Apabila kondisi tersebut disertai kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi kalori dan waktu tidur yang tidak teratur, risiko kelebihan berat badan dapat semakin meningkat," jelasnya dikutip dari laman resmi UMY, Kamis (22/10).

Karena itu, penanganan obesitas pada anak tidak cukup hanya berfokus pada angka berat badan.

Perubahan gaya hidup secara menyeluruh, mulai dari pola makan, aktivitas fisik, hingga kebiasaan tidur, menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan anak.

Dalam upaya menekan angka obesitas pada anak, Bambang menekankan pentingnya menghindari stigma terhadap anak yang memiliki berat badan berlebih.

Orang tua dan tenaga kesehatan perlu membantu anak memahami bahwa tujuan utama perubahan kebiasaan adalah menjaga kesehatan. Bukan semata-mata menurunkan berat badan atau memenuhi standar penampilan tertentu.

“Stigma ‘gendut’ cukup berbahaya. Orang tua dan dokter perlu membantu meyakinkan anak bahwa fokusnya adalah kesehatan. Bukan sekadar soal diet, melainkan bagaimana membangun pola makan yang semakin sehat,” ungkapnya.

Selain memberikan contoh, orang tua perlu memfasilitasi anak agar memiliki kesempatan untuk bergerak aktif.

Aktivitas fisik dapat dibangun melalui kegiatan sederhana yang menyenangkan dan sesuai dengan usia anak tanpa harus selalu berupa olahraga terstruktur.

Baca Juga: Pakar UMY Soroti Anggaran BNPB yang Turun di Tengah Tingginya Risiko Bencana

Sekolah juga memiliki peran strategis dalam menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan.

Bambang menilai dukungan tersebut dapat diwujudkan melalui pengembangan hubungan sosial dan komunikasi yang baik, penyediaan fasilitas olahraga yang memadai, serta pengelolaan kantin sehat.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.