Nangka Muda jadi Penyumbang Inflasi selama Ramadan dan Idulfitri

Akurat.co,Jogja-Nangka muda selalu menjadi penyumbang inflasi selama Ramadan dan perayaan Idulfitri di Yogyakarta.
Hal tersebut disampaikan Sekretaris Daerah Kota Yogyakarta, Dedi Budiono, dalam forum High Level Meeting (HLM) TPID se-DIY di Yogyakarta di Hotel Royal Ambarukmo, Jumat (13/2).
Mengacu tren dua tahun terakhir, Pemkot memproyeksikan empat komoditas yang berpotensi menjadi penyumbang inflasi pada Ramadan dan Idulfitri 2026.
Keempat komoditas tersebut meliputi aneka cabai, emas perhiasan, nangka muda sebagai bahan baku gudeg, serta gula pasir.
Baca Juga: Kendalikan Inflasi, Pemkot Jogja Gelar Pasar Murah selama Februari
“Aneka cabai berpotensi naik karena faktor permintaan dan musim hujan yang bisa berdampak pada pasokan," kata Dedi.
Dedi menambahkan, emas perhiasan juga masih menjadi tren penyumbang inflasi.
"Selain itu nangka muda karena meningkatnya konsumsi gudeg saat musim liburan, serta gula pasir yang pada Januari sudah teridentifikasi naik,” jelas Dedi.
Meski demikian, pihaknya membeberkan berdasarkan data neraca pangan Februari 2026 menunjukkan kondisi surplus.
Ketersediaan beras tercatat 3.693.560 kilogram dengan kebutuhan 2.653.181 kilogram atau surplus 1.040.379 kilogram.
“Komoditas lain seperti jagung, kedelai, bawang merah, bawang putih, cabai, daging sapi, daging ayam ras, telur ayam ras, gula pasir, dan minyak goreng juga berada dalam kondisi aman,” lanjutnya.
Sementara itu, dalam arahannya, Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X menekankan, bagi masyarakat harga pangan merupakan indikator paling nyata dari kinerja negara.
"Ketika harga stabil, publik membaca itu sebagai sinyal bahwa sistem bekerja. Ketika harga tidak stabil, yang tergerus bukan hanya daya beli, tetapi juga kepercayaan,” terangnya.
Baca Juga: Perawatan Pribadi dan Jasa jadi Penyumbang Inflasi Tertinggi DIY 2025
Menurut Sultan, fluktuasi harga pangan paling dirasakan kelompok berpendapatan rendah karena struktur belanja mereka terkonsentrasi pada kebutuhan pokok.
Ketika harga tidak stabil, bukan hanya daya beli yang tergerus, tetapi juga kepercayaan publik terhadap sistem ekonomi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Sarkem Fest 2026: Upaya Pemkot Jogja dan KAI Ubah Stigma Kawasan Pasar Kembang
- 2Jogja Makin Panas Menyengat! BMKG Ungkap Arti Grafik 'Warming Stripes' dan Pemicunya
- 3Profil Razzi Taruna, Mantan Manajer PSIM yang Kini jadi Direktur Olahraga Persik
- 4Stok BBM Sleman Diklaim Aman 7 Kali Lipat, Pemkab Minta Warga Tak Panic Buying
- 5Apa Itu Beras Fortifikasi? Dosen UMY Jelaskan Pengertian dan Dampaknya jika Tak Sesuai Kandungan
- 6Prediksi BRI Super League: Isenmulang vs PSIM jadi Laga Pemecah Telur bagi Tamu?
- 7Serunya Murid SD Tumbuh 2 Belajar Bikin Maket Rumah di UAJY
- 8Kalurahan Triwidadi Bangun Fasilitas Ramah Disabilitas Lewat Dana Keistimewaan
- 9Rangkaian Honda Bikers Day 2026 di Ambarawa Satukan 32.214 Bikers Se-Indonesia
- 10Daftar Klasemen Terbaru Moto3 2026, Setelah Pole Position di Australia Posisi Veda Naik?









