Jogja

IHSG Melemah, Pakar UGM Ungkap Risiko Besar yang Dihadapi Indonesia

Haris Ma'ani | 23 Oktober 2026, 09:02 WIB
IHSG Melemah, Pakar UGM Ungkap Risiko Besar yang Dihadapi Indonesia
Ilustrasi pelemahan IHSG. -foto:: magnific/wirestock

Akurat.co,Jogja-Guru Besar Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM, Prof. Agus Sartono mengingatkan risiko arus keluar modal atau capital outflow dibalik melemahnya Indeks Harga Saham Gabungan.

IHSG mengalami tekanan tajam setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengumumkan usulan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia dari emerging market menjadi standalone market.

Menurut Agus, dana investasi global yang dikelola manajer investasi besar berpotensi dialihkan ke pasar lain yang dinilai lebih aman.

Baca Juga: Dikira Santri, Ini 5 Fakta Menarik Dosen FISIP UGM Media Wahyudi Askar

Agus melihat bahwa kondisi tersebut dapat meningkatkan tekanan jual terhadap saham-saham Indonesia, terutama pada perusahaan berkapitalisasi besar di sektor perbankan dan energi, dan dapat menekan valuasi perusahaan.

Tak hanya itu, persepsi negatif terhadap status pasar saham Indonesia juga memengaruhi kredibilitas perusahaan nasional ketika mencari pinjaman komersial dari luar negeri.

"Lagi-lagi cost of fund meningkat dan rentetan berikutnya penyaluran kredit melambat," jelasnya.

Agus juga mengingatkan, pertumbuhan ekonomi terganggu, dampak yang tak kalah penting terkait pengangguran serta daya beli masyarakat bisa jadi turun.

"Jadi, ini semacam vicious cycle atau lingkaran setan,” terangnya.

Selain dari sisi pasar saham, Agus juga menyoroti tentang pelemahan nilai tukar rupiah yang dipengaruhi berbagai faktor eksternal dan domestik.

Dari sisi eksternal, tekanan tersebut berkelindan dengan sentimen terhadap pasar saham Indonesia, kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, serta ekspektasi kenaikan suku bunga lanjutan akibat tingginya inflasi di negara tersebut.

Sementara itu, dari dalam negeri sendiri, pelemahan rupiah juga erat kaitannya dengan kekhawatiran terhadap keberlanjutan pendanaan program-program berskala jumbo, defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), dan rasio pembayaran utang (debt service ratio).

Menurut Agus, pelemahan rupiah sudah barang pasti meningkatkan beban pembayaran utang luar negeri sekaligus biaya impor bahan baku dan energi.

Baca Juga: Pakar UGM: Pemerintah Miliki Keterbatasan Fiskal Selenggarakan Kuliah Gratis

Kondisi tersebut, sambungnya, berpotensi menambah beban biaya produksi industri.

"Bagi industri pilihannya juga tidak banyak. Menaikkan harga jual tidak akan membantu karena daya beli masyarakat rendah,” tuturnya dikutip dari laman resmi UGM, Jumat (23/10).

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.