Jogja

Satu Dekade Komunitas Banyu Bening Terus Edukasi Menjaga Air untuk Sumber Kehidupan

Yudi Permana | 9 September 2025, 19:07 WIB
Satu Dekade Komunitas Banyu Bening Terus Edukasi Menjaga Air untuk Sumber Kehidupan

Akurat.co, Jogja - Tidak dapat dipungkiri, jika ketersediaan air bersih di DIY tidak sebagus dulu.

Salah satu penyebabnya karena semakin berkurangnya tanaman yang bisa menyerap air.

Hal ini ditambah dengan pertumbuhan bangunan seiring meningkatnya kebutuhan akan tempat tinggal.

Di daerah Sleman utara juga terus tumbuh bangunan yang secara tidak langsung menyerap banyak air tanah.

Baca Juga: Provinsi DIY Butuh 5 Embung Lagi untuk Dukung Pertanian yang Kesulitan Air

Bahkan tidak sedikit, warga Sleman yang untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari harus membeli.

Di tengah tantangan krisis air yang kian nyata tersebut, hadirlah Komunitas Banyu Bening yang berada di Sardonoharjo Ngaglik Sleman.

Satu dekade sudah, komunitas ini konsisten menebarkan inspirasi. Memanen air hujan, menyaringnya, lalu membagikannya sebagai sumber kehidupan bagi masyarakat.

Sri Wahyuningsih selaku pendiri Sekolah Air Hujan menjelaskan, perjalanan 10 tahun Banyu Bening adalah bukti nyata bahwa komunitas mampu berkontribusi besar dalam mewujudkan kedaulatan air.

“Air hujan adalah rahmat. Dengan mengelolanya, kita menjaga masa depan anak cucu kita,” katanya, saat Kenduri Banyu Udan di Sekolah Air Hujan Banyu Bening, Selasa (09/09/2025).

Baca Juga: Segini Kerugian Petani Jika Aliran Air Selokan Van Der Wijck dan Mataram Dimatikan

Acara Kenduri Banyu Udan bukan hanya perayaan. Tetapi refleksi dan ajakan kalau bumi ini bukan milik perorangan saja. Melainkan titipan untuk diwariskan dalam keadaan lestari.

Dalam kenduri tersebut juga dihadiri Ketua Badan Promosi Pariwisata DIY, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara.

GKR Bendara menegaskan pentingnya mengelola air secara bijak di tengah eksploitasi air tanah yang kian mengkhawatirkan.

“Air adalah sumber kehidupan. Tanpa kesadaran menjaga, kita sedang mewariskan krisis pada generasi mendatang,” ungkapnya.

Komunitas Banyu Bening menjadi bukti bahwa masyarakat bisa mandiri menjaga ketahanan pangan dan kedaulatan air.

Baca Juga: Tak Cuma Singkong Gunungkidul, Gerakan Sosial Masjid Nurul Ashri Sleman Juga Bantu Petani Sayur hingga Air Bersih di NTT

Air hujan yang biasanya terbuang justru diproses menjadi air minum gratis, menegaskan nilai kebersamaan sekaligus mengurangi ketergantungan pada air tanah.

“Gerakan seperti ini patut direplikasi di wilayah lain, apalagi di Yogyakarta yang dikenal sebagai tanah budaya dan peradaban,” ungkapnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.