Akurat.co, Jogja - Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr Sardjito memulai pembangunan gedung Central Medical Unit (CMU).
Pembangunan CMU ini ditandai dengan ground breaking oleh Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X dan Dirut RSUP dr. Sardjito Eniarti, Kamis (08/01/2026).
Dirut RSUP dr. Sardjito Eniarti menjelaskan, gedung MCU dibangun di atas lahan seluas 10.043,77 meter persegi. Terdiri dari 12 lantai dan tiga basement, dengan total luas bangunan mencapai 55.574 meter persegi senilai Rp 917 miliar.
“Gedung ini akan dilengkapi berbagai fasilitas medis modern. Seperti kamar operasi canggih untuk bedah robotik dan kamar operasi hibrida dengan sistem angio-CT, serta dukungan peralatan radiologi mutakhir seperti MRI 3 Tesla dan CT spectral photon-counting,” katanya.
Selain itu, Gedung CMU juga akan dilengkapi laboratorium produksi sel punca (stem cell), cath lab biplane, serta kapasitas layanan yang komprehensif.
Meliputi 52 tempat tidur emergensi, 29 kamar operasi, 6 cath lab, 192 tempat tidur perawatan intensif serta fasilitas parkir yang memadai.
"Dan tentunya ini merupakan harapan dari seluruh rakyat, bukan hanya untuk DIY tetapi juga bagi Indonesia," ungkapnya.
Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin menyoroti kelemahan Indonesia selama ini bukan hanya pada alat. Tapi pada aspek komunikasi dan empati.
"Masyarakat ke luar negeri itu bukan cuma soal fasilitas. Tapi karena merasa lebih 'dimanusiakan'. Maka, saya titip, tingkatkan kemampuan non-medis dokter kita. Komunikasi dan empati harus utama agar pasien merasa nyaman dan percaya," ujarnya.
Untuk itu Menkes menegaskan, transformasi ini adalah langkah radikal untuk menata ulang efisiensi. Dari 32 gedung yang ada, nantinya akan dirampingkan menjadi hanya 9 gedung utama. Namun dengan kapasitas dan fasilitas yang melonjak 2 hingga 3 kali lipat.
"Targetnya bukan di 2040, tapi kita percepat ke 2029 agar bisa diresmikan Bapak Presiden. Kita ingin RSUP Dr. Sardjito menjadi rumah sakit yang tidak hanya menyembuhkan penyakit, tapi merawat kehidupan," ujar Menteri Budi.
Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menegaskan, pembangunan fasilitas kesehatan tidak hanya soal membangun gedung dan sistem.
Tetapi juga tentang merawat nilai kemanusiaan dan memberi harapan bagi masyarakat. Pembangunan ini menjadi tonggak penguatan pelayanan kesehatan masa depan.
"Rumah sakit tidak boleh menjadi tempat yang terasa dingin dan kaku. Pelayanan kesehatan harus tetap mengedepankan empati dan rasa kemanusiaan, di tengah kemajuan teknologi dan sistem layanan yang semakin modern," ujarnya.
Dalam pendekatan ini, pasien dipandang bukan sekadar objek layanan, tetapi sebagai subjek yang dipandu secara menyeluruh dalam perjalanan perawatannya.
Teknologi kesehatan, termasuk kecerdasan buatan, diposisikan sebagai alat bantu untuk mendukung pengambilan keputusan medis, bukan menggantikan sentuhan manusiawi tenaga kesehatan.