Lahan Pertanian di Bantul Berkurang tapi Produktivitas Meningkat, Kok Bisa?

Akurat.co,Jogja-Lahan pertanian di Bantul mengalami penyusutan atau pengurangan saat ini.
Tapi, yang menarik, walau terjadi pengurangan lahan pertanian, produktivitas hasil pertanian malah justru meningkat.
Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih menjelaskan, lahan pertanian di Bantul saat ini tinggal 14 hektare saja. Dulunya lahan pertanian di Bantul mencapai lebih dari 30 ribu hektare.,
Abdul Halim mengatakan, tapi produktivitas malah meningkat.
“Dulu saat kita masih memiliki luas lahan pertanian lebih dari 30 ribu hektare, produktivitas rata-rata hanya sekitar 3 sampai 4 ton gabah kering per hektare.
Baca Juga: Pemkab Bantul Kecam Pembubaran Ibadah Jemaat Gereja, Bupati: Tak Bisa Dibenarkan
Sekarang ketika lahan pertanian tinggal sekitar 14 ribu hektare, justru produksi pertanian meningkat menjadi rata-rata 8 ton per hektare,” ujar Halim dikutip dari laman resmi Pemkab Bantul, Senin (1/6/2026).
Ia menjelaskan bahwa peningkatan produktivitas tersebut tidak lepas dari penggunaan bibit unggul, pengolahan lahan yang lebih baik, penerapan teknologi budidaya, hingga metodologi penanaman yang semakin maju.
Halim juga tak menampik peran sejumlah pihak dalam menyukseskan pertanian di Bantul.
Seperti saat ia melakukan kegiatan panen bersama dan pemantauan demplot Yayasan Swatantra Pangan Nusantara (YSPN) di Dusun Krajan, Kalurahan Poncosari, Kapanewon Srandakan, Sabtu (30/5/2026) kemarin.
Menurut Halim, apa yang dilakukan YSPN sebagai contoh nyata bahwa teknologi budidaya pertanian dapat meningkatkan produktivitas petani.
"Meskipun lahan pertanian kita semakin menyempit, produksi justru semakin besar," terangnya.
Sementara itu, Ketua Umum Yayasan Swatantra Pangan Nusantara (YSPN), Marsdya TNI (Purn) Daryatmo menyampaikan bahwa keberlangsungan Negara Kesatuan Republik Indonesia sangat bergantung pada kemampuan bangsa dalam mewujudkan swasembada pangan.
“Berdirinya Negara Republik Indonesia ini akan sangat tergantung bagaimana kita mampu mewujudkan swasembada pangan.
Baca Juga: Keren, Komik Elang Jawa Karya Komikus asal Bantul Laris di Pasar Eropa
Namun tantangan yang dihadapi saat ini tidak ringan, mulai dari perubahan iklim hingga bertambahnya jumlah penduduk yang berdampak pada semakin berkurangnya lahan pertanian,” ujarnya.
Menurutnya, menghadapi berbagai tantangan tersebut tidak dapat dilakukan pemerintah sendiri, melainkan membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
Salah satu langkah yang didorong YSPN adalah pengembangan konsep swasembada pangan berbasis sekolah.(*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Pemda DIY Gelar Lomba Desa/Kampung Wisata 2026, Berikut Daftar Pemenangnya
- 2PB Djarum Juara Umum Piala Raja Hamengku Buwono X 2026, Borong 21 Medali
- 3PLN Yogya Edukasi 175 Siswa SDN di Bantul tentang Hemat Listrik
- 4Jadi Anggota DPRD DIY Termuda, Cintya Amanda Resmi Dilantik Lewat Mekanisme PAW
- 5Kontingen Bantul Raih Juara Umum PORPRISA DIY 2026
- 6Anggaran Rp4 M Lebih, Pemkab Bantul Gratiskan Seragam Sekolah SD hingga SMP
- 7Fakta Terbaru Dugaan Pungli Bolosego di Alkid Jogja, Anggota Polisi Kena Sanksi
- 8Meninggal di Usia 67 Tahun, Ini Kisah Hidup Den Baguse Ngarso
- 9Anggaran Rp4 M Lebih, Pemkab Bantul Gratiskan Seragam Sekolah SD hingga SMP
- 10Panpel PSIM Perbaiki Saluran Air Kamar Mandi Stadion Sultan Agung









