Sekolah Lansia Yogyakarta, Upaya Memberi Kebahagiaan dan Harapan Hidup di Usia Lanjut

Akurat.co,Jogja-Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta memiliki program Sekolah Lansia.
Program dijalankan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB).
Program ini dirancang untuk meningkatkan kualitas hidup lansia, menjaga kebugaran, mencegah penurunan fungsi kognitif, serta menguatkan kemandirian lansia dalam kehidupan sehari-hari.
Kepala DP3AP2KB Kota Yogyakarta, Retnaningtya menyampaikan bahwa saat ini telah berdiri enam Sekolah Lansia yang tersebar di beberapa kelurahan, dan jumlah tersebut akan diperbanyak menjadi 15 titik pada 2026.
Baca Juga: Pemkot Jogja Targetkan Perbaikan 100 Rumah Tak Layak Huni hingga Akhir Tahun 2025
“Untuk saat ini di Kota Yogyakarta ada enam sekolah lansia. Masing-masing ada di Purbayan 3 titik, di Kemantren Mantrijeron, yaitu di Suryodiningratan dan Gedongkiwo juga satu titik di Rejowinangun,” ungkapnya dikutip dari laman resmi Pemkot Jogja.
Penambahan jadi 15 titik
Menurutnya, tahun depan pemkot akan menambah sembilan sekolah lansia baru.
Penambahan tersebut merupakan sekolah baru dengan standar 1, dan dua lainnya akan menjadi standar 2.
Penjenjangan ini bukan merujuk pada strata akademik, namun pada standar kurikulum pembinaan lansia.
Sekolah lansia memiliki kurikulum yang disusun bersama Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi serta BKKBN.
Retnaningtyas menegaskan bahwa tujuan sekolah lansia bukan menargetkan peningkatan ekonomi, namun memperpanjang usia harapan hidup, menjaga kemandirian, dan meningkatkan kebahagiaan.
“Kita tidak menargetkan lansia harus produktif atau menghasilkan. Yang penting mereka tetap mandiri, bisa beraktivitas sendiri, tidak menjadi beban keluarga.
Ada yang usianya 90an tahun masih datang ke sekolah lansia, itu sudah keren,” katanya.
Baca Juga: Pemkot Jogja Perbaiki Dua Ruas Jalan dengan APBD Perubahan 2025
Rata-rata satu sekolah lansia menampung 50 peserta. Dengan enam sekolah yang berjalan, total peserta saat ini sekitar 300 orang.
“Meskipun belum mencakup semua lansia, kami terus menambah titik. Tahun depan menjadi 15 sekolah lansia yang dibiayai APBD.
Tetapi jika ada masyarakat atau kampus yang ingin membuka dengan swadaya, itu sangat boleh.
Bahkan beberapa universitas seperti UII dan UGM/UNY juga terlibat,” lanjutnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Jogja Makin Panas Menyengat! BMKG Ungkap Arti Grafik 'Warming Stripes' dan Pemicunya
- 2Dikira Santri, Ini 5 Fakta Menarik Dosen FISIP UGM Media Wahyudi Askar
- 3Lahan UPN Yogyakarta yang Kena Tol Tiba-tiba Bertambah, Rektor Buka Suara
- 4Yashinta: Ekonomi Kreatif DIY Terhambat Perda
- 5Profil Razzi Taruna, Mantan Manajer PSIM yang Kini jadi Direktur Olahraga Persik
- 6Waspada! Satu dari 5 Anak Indonesia Alami Obesitas, Dosen UMY Ungkap Penyebabnya
- 7Stok BBM Sleman Diklaim Aman 7 Kali Lipat, Pemkab Minta Warga Tak Panic Buying
- 8Prediksi BRI Super League: Isenmulang vs PSIM jadi Laga Pemecah Telur bagi Tamu?
- 9Apa Itu Beras Fortifikasi? Dosen UMY Jelaskan Pengertian dan Dampaknya jika Tak Sesuai Kandungan
- 10Buang Sampah di Sungai, Warga Kota Jogja Bakal Kena Sanksi





