Jogja

Kisah Djoko Slamet Peneliti BRIN, Usia 68 Tahun Selesaikan Gelar S2 Teknik Fisika UGM

Haris Ma'ani | 21 Mei 2026, 05:45 WIB
Kisah Djoko Slamet Peneliti BRIN, Usia 68 Tahun Selesaikan Gelar S2 Teknik Fisika UGM
Djoko Slamet Pudjorahardjo menjadi contoh nyata bahwa urusan belajar tak mengenal usia.. (foto: dok.ugm)

Akurat.co,Jogja-Djoko Slamet Pudjorahardjo menjadi contoh nyata bahwa urusan belajar tak mengenal usia.

Di umurnya yang menginjak 68 tahun, peneliti Pusat Riset Teknologi Akselerator (PRTA), Organisasi Riset Tenaga Nuklir (ORTN), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) ini berhasil menyelesaikan studi Magister Teknik Fisika UGM melalui program Magister by Research (MBR) dengan capaian akademik yang membanggakan.

Djoko menyelesaikan studinya dalam waktu 1 tahun 11 bulan 29 hari dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,98.

Tesis yang disusunnya berjudul Analisis Desain Sumber Ion Tipe Multicusp untuk Siklotron 30 MeV.

Baca Juga: Akademisi UGM Sebut Klaim Ekonomi Pemerintah tak Sesuai Kenyataan di Masyarakat

“Saya termotivasi melanjutkan studi mengambil gelar magister di UGM karena saya berdomisili dan bekerja di Yogyakarta, kemudian ada kesempatan peningkatan kompetensi SDM dari tempat saya bekerja melalui program Degree by Research,” ujarnya dikutip dari laman resmi UGM, Kamis (21/5/2026).

Ia diwisuda pada program pascasarjana pada 22-23 April 2026 lalu di Grha Sabha Pramana.

Selain itu, Djoko menilai Program Studi Magister Teknik Fisika Fakultas Teknik UGM sangat relevan dengan bidang pekerjaannya di BRIN yang berfokus pada teknologi akselerator atau pemercepat partikel.

Baca Juga: Pakar UGM Ungkap Bahaya Pelemahan Rupiah terhadap Dolar, Beri Dampak Langsung ke Masyarakat

“Karena bidang pekerjaan saya berkaitan dengan teknik fisika, maka saya memilih melanjutkan studi Magister Teknik Fisika,” tuturnya.

Menghadapi tantangan studi yang tak mudah

Di balik keberhasilannya, Djoko mengaku menghadapi sejumlah tantangan selama menjalani perkuliahan.

Salah satu tantangan terbesar ialah perkembangan teknologi informasi yang begitu cepat, terutama dalam sistem pembelajaran digital yang digunakan di lingkungan kampus.

“Tantangan selama studi di UGM adalah mahasiswa harus familiar dengan teknologi informasi yang digunakan di UGM, sehingga kadang saya merasa gaptek bila dibandingkan dengan mahasiswa lainnya yang rata-rata usianya lebih muda dari saya,” katanya.

Ia menambahkan, beberapa mata kuliah bahkan mengharuskan mahasiswa menggunakan bahasa pemrograman dan berbagai aplikasi untuk menyelesaikan tugas akademik.

Baca Juga: Kisah Inspirasi Dosen Disabilitas UGM Wuri Handayani, Sukses Raih Penghargaan Internasional

Meski demikian, Djoko tetap berusaha beradaptasi dan mengikuti perkembangan teknologi demi menyelesaikan studi dengan baik.

“Mereka sangat menghormati mahasiswa senior. Kalau saya mengalami kesulitan, biasanya mereka dengan senang hati membantu,” ungkapnya.

Di usia yang mendekati masa purna tugas, Djoko justru menjadikan pendidikan sebagai sarana untuk membuktikan bahwa semangat belajar tidak dibatasi umur.

Keberhasilan menyelesaikan pendidikan magister ini pun memiliki makna mendalam bagi Djoko. Selain menjadi pencapaian akademik pribadi, kelulusan tersebut juga menjadi hadiah istimewa menjelang masa pensiunnya.

“Kelulusan ini merupakan hadiah besar menjelang purna tugas saya. Ini juga menjadi bukti bahwa saya telah berusaha memanfaatkan sebaik-baiknya kesempatan yang diberikan institusi untuk kuliah lagi,” katanya.

Baca Juga: Sosok Muhammad Rizky Perwira Zain, Raih Gelar Master UGM di Usia 22 Tahun

Djoko juga menyampaikan pesan kepada generasi muda dan para mahasiswa yang tengah menempuh pendidikan agar selalu menjaga semangat belajar dan percaya pada kemampuan diri sendiri.

“Studi harus dijalani dengan penuh semangat, bersungguh-sungguh, dan percaya diri bahwa kita bisa menyelesaikan program studi tepat waktu,” pesannya.

Menurutnya, usia bukanlah penghalang untuk terus menuntut ilmu selama masih ada kemauan dan kemampuan untuk belajar.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.