Jogja

Jadi Lulusan Tercepat, Mahasiswi UGM Teliti Tren Live Commerce Masyarakat Indonesia

Haris Ma'ani | 1 Juni 2026, 11:04 WIB
Jadi Lulusan Tercepat, Mahasiswi UGM Teliti Tren Live Commerce Masyarakat Indonesia
Nadya Marvella Santarini menjadi lulusan tercepat UGM pada pada wisuda 21 Mei kemarin. (foto: dok.ugm)

Akurat.co,Jogja-Nadya Marvella Santarini menjadi lulusan tercepat UGM pada pada wisuda 21 Mei kemarin.

Nadya berhasil menyelesaikan pendidikannya dalam waktu 3 tahun 4 bulan 1 hari .

Sementara rerata masa studi 1.644 lulusan Program Sarjana periode ini tercatat selama 3 tahun 11 bulan.

Menariknya, untuk menyelesaikan gelar sarjana di Program Studi Psikologi, Fakultas Psikologi, Nadya melakukan penelitian terkait tren live commerce masyarakat Indonesia.

Melalui skripsinya yang berjudul The Role of Social Influence in Compulsive Buying on Live Commerce, Nadya meneliti pengaruh social influence terhadap kecenderungan compulsive buying pada pengguna live commerce.

Baca Juga: Ponpes di Bantul Budidaya Melon Hasil Riset UGM, 1.300 Buah Dihasilkan dalam Sekali Panen

Dikutip dari laman resmi UGM, Nadya menjelaskan bahwa penelitiannya berangkat dari fenomena meningkatnya aktivitas belanja melalui siaran langsung di media digital yang banyak dipengaruhi oleh interaksi sosial, baik dari host maupun konsumen lainnya.

Menurutnya, live commerce menghadirkan tekanan sosial tersendiri yang mampu memengaruhi keputusan seseorang dalam berbelanja.

“Aku meneliti apakah pengaruh orang-orang, baik itu konsumer lain ataupun host di live commerce, memiliki dampak kepada kecenderungan konsumer untuk jatuh ke compulsive buying dan apakah kontrol diri kita bisa jadi moderator untuk efek itu,” jelasnya.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh sosial berkontribusi terhadap perilaku compulsive buying.

Sementara itu, kontrol diri tidak terbukti memperkuat maupun memperlemah hubungan tersebut, tetapi tetap memiliki pengaruh langsung terhadap perilaku pembelian kompulsif.

“Yang menarik dari hasil penelitian saya, kontrol diri tetap dapat menjadi prediktor negatif terhadap perilaku compulsive buying secara langsung,” jelasnya.

Di balik keberhasilannya menyelesaikan studi lebih cepat, Nadya mengaku proses pengerjaan skripsi bukanlah perjalanan yang mudah.

Ia menyebut revisi sebagai tantangan terbesar yang kerap membuat mahasiswa kehilangan motivasi untuk melanjutkan pengerjaan skripsi.

Menurutnya, banyak mahasiswa merasa lelah secara mental setelah menghadapi revisi berulang, hingga akhirnya merasa tidak percaya diri untuk kembali melakukan bimbingan.

Baca Juga: UGM Sukses Kembangkan Padi Gamagora untuk Sawah Tadah Hujan, Diklaim Hasilkan 9,7 Ton per Hektare

“Banyak teman-teman aku juga stuck karena setelah revisi mereka merasa capek duluan, self-esteemnya rendah, percaya dirinya kurang, dan akhirnya jadi malas lanjut lagi,” tuturnya.

Meski demikian, Nadya memilih untuk mengubah cara pandangnya terhadap proses revisi dan bimbingan.

Alih-alih melihat revisi sebagai hambatan, ia justru menjadikannya sebagai motivasi untuk terus berkembang.

Ia juga berusaha membangun komunikasi yang aktif dengan dosen pembimbing agar memiliki timeline pengerjaan yang jelas.

Seiring keberhasilan menyelesaikan studi cepat, Nadya berpesan kepada mahasiswa untuk tidak hanya fokus pada bidang studinya saja, tetapi juga berani mengeksplorasi banyak pengalaman baru selama masa perkuliahan.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan mental dan memberi waktu istirahat bagi diri sendiri di tengah berbagai tuntutan akademik.

“Istirahat itu lebih penting dari yang kalian bayangkan. Otak kita bekerja secara lebih baik dan lebih jelas kalau udah istirahat. Jadi ketika lagi stres karena revisi atau banyak tanggung jawab, coba beri dirimu waktu menenangkan diri. Itu bukan berhenti, tapi mulai ulang atau restart,” pungkasnya. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.