Jogja

5 Fakta Penting Demo Jogja Memanggil, Mahasiswa dan Suporter Gabung, Polisi Amankan Perusuh Mabuk dan Bawa Sajam

Haris Ma'ani | 29 Oktober 2026, 05:11 WIB
5 Fakta Penting Demo Jogja Memanggil, Mahasiswa dan Suporter Gabung, Polisi Amankan Perusuh Mabuk dan Bawa Sajam
Demontrasi Aliansi Jogja Memanggil di kawasan Titik 0 Kilometer, Rabu (28/10) siang wib. -foto: instagram/nurrirdo via jogjamemanggilofficial

Akurat.co,Jogja-Demonstrasi Jogja Memanggil yang dilakukan aliansi mahasiswa dan juga kelompok suporter berlangsung di Gedung Gubernur DIY, Rabu (28/10).

Menariknya, demonstrasi ini diikuti massa dari Aliansi Jogja Memanggil dan juga suporter.

Baca Juga: Aksi Demonstrasi 1 September Lumpuhkan Perekonomian Kawasan Malioboro

Berikut sejumlah fakta penting terkait demonstrasi Jogja Memanggil, yang berakhir rusuh tersebut.

1. Kritisi kebijakan pemerintah Prabowo dan Gibran

Dalam momentum ini, Aliansi Jogja Memanggil menyuarakan sikap kritisnya terhadap jalannya pemerintahan Prabowo-Gibran.

Juru bicara AJM, Wahid, meminta pemerintah DIY menyatakan sikap terhadap tuntutan pemberantasan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) di wilayah tersebut.

“Mengingat situasi Indonesia hari ini, mulai dari kepemimpinan Prabowo-Gibran dengan banyaknya kebijakan yang disahkan tidak berpihak kepada rakyat. Dan terkhusus lagi di Jogja, kita menyoroti tentang upah buruh di Yogyakarta yang tidak ditetapkan sesuai standar kebutuhan hidup layak,” ujarnya.

2. Naikkan UMR Rp4 Juta dan Status Mandala Krida

AJM meminta kenaikan upah minimum regional (UMR) di Jogja naik menjadi Rp4,6 juta sesuai hasil survei kebutuhan hidup layak di DIY.

Dalam kesempatan ini, suporter sepak bola yang turut dalam aksi juga menyuarakan aspirasi terkait penuntasan kasus korupsi Stadion Mandala Krida.

Para suporter merupakan gabungan dari pendukung klub lokal, yakni PSIM Jogja, PSS Sleman, dan Persiba Bantul.

3. Demo berujung ricuh pada malam hari

Massa Aliansi Jogja Memanggil melakukan demonstrasinya sejak pukul 13.45 wib dan membubarkan diri sekitar pukul 17.30 setelah membacakan tuntutan aksi di Titik 0 Kilometer.

Empat pernyataan aksi adalah, satu, menetapkan karhutla sebagai bencana nasional.

Dua, tetapkan upah buruh yang layak, turunkan harga kebutuhan pokok rakyat.

Tiga, hentikan kriminalisasi terhadap rakyat dan seluruh rakyat tertindas di Indonesia.

Empat, usut tuntas korupsi Mandala Krida.

Tapi menjelang selepas magrib, demonstrasi berubah rusuh.

4. Massa tak dikenal muncul, lempar batu dan petasan

Polisi mengatakan massa dari dari kelompok tak dikenal muncul dari sirip-sirip Jalan Malioboro.

Mereka melakukan provokasi dengan melempar batu hingga petasan di Gedung DPRD DIY.

Kabid Humas Polda DIY, Kombes Pol Ihsan, mengatakan, personel polisi kemudian menghalau massa yang anarkis itu agar keluar dari area Malioboro. Salah satunya dengan tembakan water canon pada pukul 22.30.

5. Polisia amankan massa mabuk dan pembawa sajam

Ihsan, mengungkapkan pihaknya mengamankan sejumlah massa tak dikenal saat kericuhan di kawasan Jalan Malioboro, Rabu (28/10) malam.

Salah satu orang yang diamankan menurut Ihsan membawa senjata tajam (sajam) dan dalam keadaan pengaruh minuman keras (miras).

Baca Juga: Dikira Santri, Ini 5 Fakta Menarik Dosen FISIP UGM Media Wahyudi Askar

"Ada beberapa massa yang tidak dikenal yang diamankan, salah satu membawa senjata tajam. Dari pengecekan sebagian besar mengonsumsi miras," katanya kepada media di Kantor DPRD DIY sekitar pukul 23.30 wib.

Hingga Kamis (29/10) pukul 00.30 wib, polisi berusaha mendesak massa dari kawasan Tugu Yogyakarta ke Jalan AM Sangaji hingga menyebar ke Jalan Magelang.

Polisi memasang barikade di Simpang Tugu dan Simpang Pingit untuk mengantisipasi massa kembali ke pusat kota.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.